SOLOBALAPAN.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kembali menggelar Lomba Gapura Pitoelasan sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kompetisi tahunan ini diikuti oleh perwakilan kampung dari seluruh kelurahan di Kota Solo dengan tujuan membangkitkan semangat gotong royong, memperindah lingkungan permukiman, sekaligus melestarikan identitas budaya yang dimiliki masing-masing kampung.
Melalui perlombaan tersebut, setiap peserta didorong menghadirkan desain gapura yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai filosofis, sejarah, dan kearifan lokal. Gapura yang selama ini menjadi pintu masuk kawasan permukiman diharapkan mampu menjadi simbol karakter kampung, mencerminkan kekompakan masyarakat, serta menjadi daya tarik lingkungan yang bersih, tertata, kreatif, dan berbudaya.
Untuk menambah semangat partisipasi masyarakat, Pemkot Surakarta menyediakan total hadiah puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Namun, lebih dari sekadar kompetisi, lomba ini menjadi momentum bagi warga untuk bersama-sama memperkuat budaya kerja bakti, mempererat hubungan antartetangga, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Penyelenggaraan Lomba Gapura Pitoelasan merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Surakarta dengan PT Citra Warna Abadi melalui produk Weldon Cat Tembok Ber-SNI. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk terus berinovasi dalam mempercantik kampung tanpa meninggalkan nilai-nilai sejarah dan budaya yang menjadi ciri khas Kota Solo.
Baca Juga: Istri Bupati Pemalang dr. Noor Faizah Maenofi Turut Diboyong ke Gedung Merah Putih Pasca-OTT KPK
Suasana di Kampung Tegalrejo, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, mulai dipenuhi semangat kebersamaan. Warga tampak bergotong royong mempercantik lingkungan dengan mengecat tembok, memasang ornamen merah putih, hingga menghias gapura yang menjadi pintu masuk permukiman dengan desain yang menggambarkan kebudayaan di Surakarta.
Bagi masyarakat Tegalrejo, gapura bukan sekadar penanda wilayah. Bangunan tersebut menjadi wajah kampung yang mencerminkan kekompakan dan kepedulian warganya. Berangkat dari semangat itulah, digelar lomba menghias gapura yang melibatkan warga dari berbagai RT dan Seorang Maestro terkenal warga Tegalrejo untuk menampilkan karya terbaik dengan mengusung nuansa kemerdekaan.
”Tujuannya bukan hanya memperindah gapura saja. tetapi membangun kebersamaan, gotongroyong, jadi disini berkumpul semua dari yang muda hingga tua untuk bekerjasama membangunnya.” Ujar Chosaeri selaku Tokoh Maestro Kampung Tegalrejo.
Beragam ide kreatif mulai bermunculan dalam proses pengerjaan. Ada yang memanfaatkan bahan-bahan daur ulang, mempercantik gapura dengan lukisan-lukisan yang mengangkat budaya asli solo seperti Pasa Gedhe, Keraton kasunanan, Batik yang dipadukan dengan simbol-simbol nasional. Seluruh proses dikerjakan secara swadaya melalui kerja bakti yang berlangsung setiap Pagi hingga malam hari.
Pelaksanaan Lomba Gapura Pitoelasan 2026 diawali dengan peluncuran resmi yang dijadwalkan pada 1 Juli 2026. Sejak peluncuran tersebut, seluruh peserta dari berbagai kelurahan di Kota Surakarta diberikan waktu untuk mempersiapkan konsep, melakukan perawatan, hingga menghias gapura sesuai dengan tema dan kriteria yang telah ditetapkan panitia. Masa persiapan ini dimanfaatkan warga untuk bergotong royong mempercantik lingkungan sekaligus menampilkan identitas dan karakter khas kampung masing-masing.
Proses penilaian akan dilaksanakan secara bertahap oleh tim juri yang ditunjuk oleh panitia penyelenggara. Aspek yang dinilai tidak hanya meliputi keindahan dan kreativitas desain, tetapi juga unsur kebersihan lingkungan, kekompakan masyarakat, inovasi, serta penguatan nilai budaya yang tercermin dalam tampilan gapura.
Setelah seluruh tahapan penilaian selesai, panitia akan menetapkan para pemenang sebelum puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, sehingga hasil perlombaan dapat menjadi bagian dari kemeriahan perayaan kemerdekaan di Kota Solo.
”Acara ini diadakan serentak satu Solo. Yang diadakan dimulai dari pertengahan Juli hingga 1 Agustus nanti penilaiannya.” Ujar Tokoh Masyarakat Turi Anggraeni.
Gapura yang diusung dalam perlombaan tahun ini mengangkat tema "Nyawiji ing Warna, Menayu Hayuning Gapura". Dalam filosofi bahasa Jawa, Nyawiji ing Warna bermakna bersatu dalam keberagaman, sedangkan Menayu Hayuning Gapura memiliki makna merawat, menjaga, dan memperindah gapura sebagai simbol kebersamaan warga. Tema tersebut dipilih untuk menggambarkan semangat masyarakat Kampung Tegalrejo yang terus menjaga persatuan sekaligus melestarikan warisan yang telah menjadi identitas kampung.
Meski memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, Gapura Kampung Tegalrejo menyimpan nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat setempat. Gapura tersebut telah berdiri sejak tahun 1978 dan menjadi salah satu penanda masuk kawasan kampung yang hingga kini masih dipertahankan keberadaannya. Selama puluhan tahun, gapura itu menjadi saksi berbagai perkembangan Kampung Tegalrejo, mulai dari perubahan lingkungan, pergantian generasi, hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan yang terus berlangsung.
Baca Juga: Perlahan Bangkit, Robby Pantjoro Tunjukkan Kondisi Terbaru Usai Kecelakaan McLaren di Sukoharjo
”Kami disini tidak hanya melukiskan ikon-ikon terkenal yang ada di surakarta saja tetapi kami menambahkan RajaMala tidak hanya sebagai logo pemkot Surakarta saja tetapi Rajamala juga diceritakan memiliki kekuatan tiada tanding, dengan kesaktian yang mampu menolak bala atau aura negatif. Kami menambahkan variasi di gambar Rajamala ini dengan menambahkan sayap dengan artian supaya desa ini tidak hanya terhindar dari bala dan aura negatif saja melainkan bisa berkembang hingga nanti” Ujar Chosaeri selaku Tokoh Maestro Kampung Tegalrejo.
Lebih dari sekadar mengikuti perlombaan, kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang masih kuat di Kampung Tegalrejo. Warga dari berbagai kalangan bergandengan tangan menyumbangkan tenaga, waktu, hingga ide-ide kreatif demi menciptakan gapura yang indah sekaligus bermakna. Dengan mengusung tema "Nyawiji ing Warna, Menayu Hayuning Gapura", masyarakat berharap gapura bersejarah ini tetap lestari sebagai simbol persatuan, budaya, dan kebanggaan warga Kampung Tegalrejo untuk generasi yang akan datang.
Melalui kegiatan tersebut, perlombaan tidak hanya menjadi ajang adu kreativitas antarrukun tetangga, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan kembali budaya gotong royong di tengah masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang diharapkan terus terjaga, seiring peringatan hari kemerdekaan yang menjadi momentum memperkuat persatuan warga. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com