RADARSOLO.COM - Perajin di Punduhsari Wonogiri bertahan memproduksi rancak gamelan bernilai hingga Rp 70 juta per set di tengah ancaman krisis regenerasi pengukir.
Di balik dentang megah seperangkat gamelan jawa yang membahana di panggung-panggung karawitan, ada peran penopang yang kerap luput dari sorotan utama: rancak gamelan. Rangka kayu berukir presisi inilah yang menjadi wadah sekaligus penentu estetika visual instrumen gamelan.
Di Desa Punduhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, kerajinan rancak bukan sekadar industri rumahan, melainkan denyut nadi kehidupan. Hampir 90 persen warga desa ini menggantungkan dapur mereka dari seni memahat rangka instrumen tradisi. Namun, di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan impitan ekonomi modern, para perajin di kaki Wonogiri ini harus memutar otak agar warisan kriya ini tidak gulung tikar.
Salah seorang perajin yang masih bertahan di tengah badai ekonomi adalah Ariyanto, 46. Menggeluti bisnis ini sejak 2008, Ariyanto memahami betul bahwa rancak merupakan jiwa estetika dari instrumen gamelan.
"Gamelannya mungkin tembaganya bagus, tapi kalau rancaknya biasa saja atau asal-asalan, tampilannya tentu kurang maksimal. Rancak itu wajah dari nilai seni gamelan," tegas Ariyanto saat ditemui di workshop-nya, Minggu lalu (20/7).
Untuk merakit satu set rancak gamelan, Ariyanto mengandalkan tiga jenis kayu lokal Wonogiri, yaitu mahoni, jati, dan trembesi. Di mata pengukir Punduhsari, material kayu tersebut memiliki istilah unik yang disebut kayu "gurih". Artinya, tekstur serat kayunya keras, ulet, namun tetap fleksibel dan tidak pecah saat disayat oleh bilah tatah pahat.
Proses manufaktur satu set rancak memakan waktu rata-rata satu bulan penuh, mulai dari pemotongan batang pohon, pemformatan ukuran baku, pengukiran detail, hingga tahap finishing.
Selain menguasai corak klasik seperti Majapahit, Pajajaran, dan Jepara, perajin Punduhsari juga melahirkan inovasi lokal bernama Motif Sembarang. Motif ini merupakan hasil eksperimen visual yang memadukan berbagai unsur budaya nusantara secara fleksibel tanpa terikat pakem tunggal.
Jangkauan pasar rancak Punduhsari sejatinya telah merambah lintas pulau, mulai dari Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. Konsumennya mencakup seniman dalang, grup campursari, dinas pemerintahan, hingga kolektor pribadi. Salah satu karya paling monumental yang pernah digarap Ariyanto adalah pesanan satu set rancak berbahan kayu jati tua grade A plus milik Universitas Tidar Magelang.
Meski demikian, Ariyanto tak menampik bahwa penjualan sepanjang 2024 hingga pertengahan 2026 ini mengalami pasang surut yang tajam.
"Rancak gamelan ini bukan kebutuhan primer, bahkan bukan sekadar tersier. Orang baru membeli kalau memang ada dana sisa atau ada proyek kebudayaan resmi," akunya jujur.
Menariknya, di saat perajin lain berlomba-lomba masuk ke pasar digital, Ariyanto justru menolak menjual produknya di marketplace online. Dia secara sadar memilih bertahan pada jalur pemasaran berbasis relasi (networking) dan sistem custom order.
Alasan menolak memasarkan lewat marketplace, menurut Ariyanto karena algoritma toko daring cenderung memicu perang harga (predatory pricing) yang dapat menurunkan standar kualitas produk.
“Setiap pesanan juga kami kerjakan secara eksklusif menyesuaikan spesifikasi rumit yang diminta pemesan,” ujarnya.
Harga satu set rancak standar dibanderol Rp 30 juta–Rp 40 juta. Sementara untuk spesifikasi kayu jati grade A kualitas warisan dipatok mencapai Rp 60 juta hingga Rp 70 juta per set.
Di luar persoalan pemasaran, ada ancaman eksistensial yang jauh lebih menakutkan bagi masa depan Desa Punduhsari yaitu krisis regenerasi. Sejak 2015, minat anak muda lokal untuk memegang pahat dan melestarikan seni rancak terus merosot drastis. Mayoritas generasi muda lebih memilih merantau atau bekerja di sektor formal perkotaan.
Mengingat 90 persen ekonomi Desa Punduhsari bertumpu pada industri ini, Ariyanto mendesak pemerintah daerah maupun pusat untuk tidak tinggal diam. Dia berharap ada intervensi program stimulus, pendampingan kuota pameran, atau kebijakan fasilitasi pengadaan alat musik tradisi bagi instansi pendidikan secara berkala.
Bagi Ariyanto dan warga Punduhsari, memahat kayu rancak bukan lagi sekadar urusan mencari sesuap nasi. Setiap sabetan pahat yang menorehkan kayu jati adalah benteng pertahanan terakhir agar suara gamelan jawa tidak bergema di atas panggung yang lapuk. (*)
Editor : Kabun Triyatno