Menolak Punah! Kelompok Srandul Mugo Laras Wonogiri Setia Rawat Kesenian Rakyat Jawa, Berjuang Tarik Minat Anak Muda

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 21:30 WIB
Kelompok Mugo Laras setelah menampilkan kesenian srandul.
Kelompok Mugo Laras setelah menampilkan kesenian srandul.

SOLOBALAPAN, BUDAYA — Lantunan gending Jawa mengalun pelan mengiringi derap langkah para pemain saat memasuki panggung pertunjukan.

Tanpa dialog percakapan biasa, setiap babak cerita dilantunkan lewat tembang khas yang dipadu dengan gerakan tari nan lembut.

Suasana klasik tersebut hingga kini masih dapat dijumpai ketika Kelompok Srandul Mugo Laras tampil di Desa Mlopoharjo, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri.

Di tengah derasnya arus hiburan modern, kelompok seni yang mayoritas beranggotakan pemain berusia di atas 50 tahun ini tetap setia menjaga keberlangsungan kesenian rakyat Jawa tersebut.

Kombinasi Unik Seni Drama dan Ciri Khas Peran Laki-Laki

Srandul merupakan kesenian tradisional yang memadukan seni peran, tembang, tari, dan iringan gamelan dalam satu wadah pementasan.

Dahulu, kesenian rakyat ini menjadi hiburan utama yang selalu dinantikan masyarakat Wonogiri saat perayaan hajatan maupun tradisi bersih desa.

Salah satu keunikan utama yang masih dipertahankan Kelompok Srandul Mugo Laras adalah seluruh karakter tokoh dimainkan oleh laki-laki, termasuk untuk peran karakter perempuan.

Salah satu pilar pemain senior yang masih bertahan adalah Sukasno, pria yang telah bergabung sejak tahun 1987 dan konsisten memerankan tokoh Pak Ganyong.

Bagi Sukasno, mementaskan srandul bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan wujud pengabdian terhadap warisan leluhur.

Kenangan Masa Kejayaan Srandul: "Saya main karena memang suka dan ingin melestarikan budaya. Dulu sekitar era 1970-an hampir setiap minggu ada pentas untuk khitanan, pernikahan, sampai bersih desa. Penontonnya ramai sekali karena belum banyak hiburan seperti sekarang," kenang Sukasno.

Inovasi Musik Pop dan Tantangan Berat Krisis Regenerasi

Seiring berjalannya waktu, gempuran media digital, televisi, dan internet membuat popularitas srandul meredup. Alur cerita yang cenderung monoton dan jarang mengalami pembaruan membuat minat penonton perlahan menurun.

Menyadari tantangan zaman tersebut, Kelompok Srandul Mugo Laras mulai melakukan penyesuaian kreatif dengan menyisipkan lagu-lagu populer sebagai selingan di sela pertunjukan.

Inovasi ini dihadirkan guna memberikan warna baru tanpa merusak pakem utama kesenian srandul.

Kendati demikian, tantangan terberat yang dihadapi saat ini adalah krisis regenerasi pemain. Minat pemuda lokal untuk mempelajari seni tradisi ini terbilang sangat minim.

Keluhan Soal Minat Generasi Muda: "Anak-anak muda sekarang banyak yang malu kalau diajak main srandul. Padahal kalau alur ceritanya dikombinasikan dengan cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini, mungkin anak-anak muda akan lebih tertarik untuk menonton bahkan ikut bermain," ungkap Sukasno.

Tabel Profil, Ciri Khas, dan Tantangan Kesenian Srandul Wonogiri

Guna memberikan pemetaan informasi mengenai rincian profil dan kondisi kesenian Srandul secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:

Komponen Kesenian Detail Informasi & Realita Lapangan
Nama Kelompok Kelompok Srandul Mugo Laras (Desa Mlopoharjo, Wuryantoro, Wonogiri)
Unsur Pertunjukan Seni drama/peran, tembang Jawa, gerak tari halus, dan iringan gamelan
Keunikan Karakter Seluruh peran (termasuk tokoh wanita) dimainkan oleh pemain laki-laki
Profil Usia Pemain Didominasi oleh seniman senior berusia di atas 50 tahun
Penggerak Utama Sukasno (Pemeran tokoh Pak Ganyong, aktif sejak 1987)
Bentuk Inovasi Menyisipkan lagu-lagu populer di tengah jeda pertunjukan
Ruang Pementasan Agenda tradisi bersih desa & festival kebudayaan daerah
Tantangan Utama Minimnya minat regenerasi pemuda & monotonnya variasi cerita

Sisi Spiritual dan Harapan Menjaga Asa Budaya

Di balik fungsi hiburannya, pementasan srandul pada masa lalu juga lekat dengan dimensi spiritual. Dalam pertunjukan khusus yang dilengkapi ubo rampe (perlengkapan ritual), masyarakat dahulu mempercayai adanya nilai sakral dan magis yang menyertai pementasan.

Meski tradisi spiritual tersebut kini mulai jarang dijumpai, Kelompok Srandul Mugo Laras memilih untuk terus melangkah naik panggung.

Bagi para pemain senior, setiap gending yang ditabuh dan tembang yang dilantunkan adalah upaya merawat identitas budaya Wonogiri agar tidak berhenti di generasi mereka.

(MG4)

 

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
budaya jawa wonogiri srandul wayang orang kesenian