SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Harapan dan doa yang membubung di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo akhirnya berujung duka mendalam. Setelah 32 jam berjuang menembus pekatnya arus sungai, tim pencari akhirnya menemukan Irsad Rivai Musslih (19) dalam kondisi tak bernyawa pada Senin (20/7/2026) malam.
Pemuda yang sehari-hari memeras keringat sebagai karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG di Sragen itu tak lagi bisa pulang berhembus napas. Ia ditemukan mengapung di balik kegelapan malam, hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik awal dirinya ditelan ganasnya Bengawan Solo.
Tak ada yang menyangka, gurauan sederhana di pinggir sungai pada Minggu (19/7/2026) siang bakal menjadi detik-detik terakhir hidup Irsad. Kala itu, sekitar pukul 13.00 WIB, sengatan terik matahari memanggul langkah Irsad dan tiga rekannya ke tepi sungai di Dukuh Ngipang, Desa Gawan, Kecamatan Tanon.
Baca Juga: Niat Berendam karena Gerah, Remaja 19 Tahun Terseret Arus Bengawan Solo di Sragen
Terpikat dinginnya air yang seolah menjanjikan kesegaran, Irsad berinisiatif turun ke sungai. Padahal, ia sadar betul dirinya tak memiliki kemampuan berenang sedikit pun. Niat murni untuk sekadar mendinginkan badan berubah menjadi mimpi buruk saat pijakannya tergelincir.
Dalam hitungan detik, arus bawah Bengawan Solo yang dikenal tenang namun mematikan, langsung menyapu tubuhnya. Rekannya, Dista, yang ikut turun ke air demi menjaga Irsad, hanya bisa menyaksikan dengan kepanikan luar biasa saat jemari sahabatnya itu perlahan lenyap digulung pusaran air.
Operasi Penyelamatan di Bawah Bayang-Bayang Keputusasaan
Sejak jeritan histeris pecah di tepi sungai Minggu sore, Tim SAR Gabungan langsung bertarung melawan waktu. Malam pertama pencarian berlangsung mencekam; pekatnya air dan minimnya cahaya memaksa petugas hanya bisa menatap nanar permukaan sungai dari darat menggunakan lampu sorot.
Memasuki Senin pagi, perahu-perahu karet meluncur membelah aliran Bengawan Solo. Radius penyisiran diperluas secara masif hingga menyisir Jembatan Sapen yang berjarak 10 kilometer. Namun hingga mentari mulai tenggelam di ufuk barat, Bengawan Solo masih enggan mengembalikan tubuh Irsad. Keluarga yang menunggu di posko pencarian hanya bisa menatap air sungai dengan mata sembap.
Baca Juga: Bambang Riyadi : Menjaga Napas Wayang Kulit dari Kepuhsari Wonogiri Hingga Manca Negara
Titik Terang di Balik Kegelapan Malam
Misteri hilangnya Irsad baru terkuak saat kegelapan merayapi kawasan Dukuh Ngipang pada pukul 20.20 WIB. Bayangan misterius yang mengapung di permukaan air tertangkap mata warga setempat.
Lokasi itu hanya berjarak 360 meter dari titik Irsad pertama kali tergelincir. Tim Rescue SAR Solo bergerak cepat memecah hening malam untuk mengevakuasi jasad korban. Tepat pukul 21.00 WIB, tubuh kaku pemuda 19 tahun itu akhirnya berhasil diangkat ke daratan, diiringi isak tangis histeris keluarga yang tak sanggup menyaksikan kenyataan pahit tersebut.
Duka di Desa Gawan kini menjadi tampar keras bagi siapa saja yang meremehkan ganasnya sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.
Baca Juga: Tarot Kian Digemari, Mengapa Semakin Banyak Orang Mencoba?
Kapolsek Tanon, Iptu Priyatno, melayangkan ketegasan di balik rasa duka yang mendalam. Ia mewanti-wanti masyarakat agar tidak lagi menjadikan Bengawan Solo sebagai tempat bermain.
"Kami mengimbau keras masyarakat untuk tidak lagi nekat berenang di sungai, terutama pada titik-titik berarus deras dan dalam. Jangan ada lagi nyawa yang melayang sia-sia dan tragedi memilukan seperti ini terulang," tegasnya. (din/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com