SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Sungai Bengawan Solo kembali memakan korban. Seorang remaja bernama Irsad Rivai Musslih (19), warga Dukuh Gawan, Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, dilaporkan hilang setelah terseret derasnya arus sungai pada Minggu (19/7) sekitar pukul 14.00 WIB.
Korban diduga tenggelam akibat terseret arus bawah saat berniat berendam untuk mendinginkan tubuh di tengah cuaca yang panas.
Hingga Senin (20/7) pukul 10.00 WIB, korban belum ditemukan. Tim SAR gabungan masih melakukan pemantauan dan pencarian di sekitar lokasi kejadian.
Berawal dari Niat Berendam
Peristiwa nahas tersebut bermula sekitar pukul 13.00 WIB usai salat Zuhur. Korban bersama tiga rekannya sedang berkumpul di tepi Sungai Bengawan Solo yang melintas di wilayah Dukuh Ngipang, Desa Gawan.
Karena cuaca terasa sangat terik, Irsad memutuskan turun ke sungai untuk berendam.
Baca Juga: Bambang Riyadi : Menjaga Napas Wayang Kulit dari Kepuhsari Wonogiri Hingga Manca Negara
Kepala Desa Gawan, Sutris, mengatakan salah seorang teman korban bernama Dista sebenarnya mengetahui bahwa Irsad tidak bisa berenang. Karena khawatir, Dista ikut turun ke sungai untuk mendampingi korban.
"Korban pamit kepada teman-temannya mau berendam karena cuaca panas. Temannya yang tahu korban tidak bisa berenang ikut turun untuk mendampingi," ujar Sutris.
Terseret Arus Bawah
Sesaat setelah memasuki sungai, korban diduga terpeleset hingga kehilangan keseimbangan. Derasnya arus Bengawan Solo langsung menyeret tubuh korban.
Dista sempat berusaha menolong dengan memegang tubuh korban. Namun derasnya arus justru membuat keduanya hanyut sejauh sekitar 250 meter ke arah hilir.
Diselamatkan Bola Plastik
Di tengah kepanikan tersebut, seorang remaja bernama Choki Putut Saputro (16) yang berada di tepi sungai melihat kedua korban berjuang melawan arus.
Dengan sigap, Choki melemparkan sebuah bola plastik ke arah mereka.
Dista berhasil meraih bola tersebut sehingga dapat bertahan dan akhirnya dievakuasi ke tepian sungai.
Sayangnya, Irsad yang diduga sudah kehabisan tenaga dan oksigen tidak mampu menyelamatkan diri. Korban tenggelam dan hilang terbawa arus bawah Sungai Bengawan Solo.
Tim SAR Gabungan Diterjunkan
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sragen, Anang, menjelaskan bahwa saat berada di dalam air sempat terjadi refleks saling tarik-menarik antara korban dan rekannya akibat panik.
"Karena keduanya panik, terjadi refleks pertahanan hidup di dalam air. Korban yang kehabisan oksigen dan tenaga akhirnya tenggelam. Korban yang dinyatakan hilang dipastikan satu orang," jelas Anang.
Baca Juga: Tarot Kian Digemari, Mengapa Semakin Banyak Orang Mencoba?
Usai menerima laporan, tim gabungan langsung melakukan operasi pencarian dengan melibatkan BPBD Sragen, Basarnas, TNI, Polri, serta berbagai organisasi relawan seperti Tagana, MTA, MDMC, Dinas Sosial, dan unsur masyarakat lainnya.
Pada sore hari, pencarian dilakukan menggunakan perahu karet dan metode penyisiran sungai (body rafting). Namun ketika malam tiba, operasi di air dihentikan sementara karena kondisi gelap dan demi keselamatan petugas.
Tim kemudian melanjutkan pencarian melalui pemantauan visual dari darat dengan bantuan lampu sorot di sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo.
Imbauan Waspada
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai, terutama ketika debit air sedang tinggi dan arus bawah tidak terlihat dari permukaan.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak berenang atau berendam di sungai tanpa kemampuan berenang yang memadai serta selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di kawasan perairan. (din/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com