Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sepur Kluthuk Jaladara, Mesin Uap Berusia Lebih dari Seabad yang Masih Menyusuri Jantung Kota Solo

Luthfiana Sekar • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:15 WIB
Sepur Kluthuk Jaladara melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
Sepur Kluthuk Jaladara melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo. (M Ihsan/Radar Solo)

 SOLOBALAPAN.COM - Di tengah lalu lintas Jalan Slamet Riyadi yang sibuk, sesekali terdengar suara peluit panjang disusul kepulan asap putih dari sebuah lokomotif uap. 

Pemandangan itu bukan sekadar atraksi wisata, melainkan perjalanan Sepur Kluthuk Jaladara, kereta wisata yang menjadi salah satu ikon Kota Surakarta.

Berbeda dengan kereta api pada umumnya, Sepur Kluthuk Jaladara menggunakan lokomotif uap seri C1218 buatan Jerman yang diproduksi pada tahun 1896. 

Baca Juga: Stasiun Purwosari, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Perkeretaapian di Kota Solo

Dengan usia lebih dari satu abad, lokomotif ini masih beroperasi sebagai kereta wisata dan menjadi salah satu daya tarik yang memperlihatkan sejarah panjang perkeretaapian di Kota Solo.

Sepur Kluthuk Jaladara mulai dioperasikan sebagai kereta wisata pada 27 September 2009. 

Pengoperasiannya merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Surakarta untuk menghidupkan kembali jalur rel bersejarah sekaligus mengembangkan sektor wisata budaya di kota ini.

Baca Juga: Babak Baru "Megatron": Tiba di Korea, Megawati Hangestri Siap Guncang V-League Bersama Hyundai Hillstate

Perjalanan Jaladara dimulai dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Solo Kota dengan jarak sekitar 5,6 kilometer. 

Selama perjalanan, kereta melintasi rel yang berada di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, melewati sejumlah bangunan bersejarah seperti Loji Gandrung, Taman Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Danar Hadi, hingga Kampung Batik Kauman sebelum tiba di tujuan.

Keunikan inilah yang membuat Jaladara berbeda. Solo menjadi salah satu kota di Indonesia yang masih memiliki jalur rel aktif yang membentang sejajar dengan jalan raya di kawasan pusat kota. 

Kehadiran kereta uap yang melintas di tengah aktivitas masyarakat menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di daerah lain.

Nama "Jaladara" sendiri diambil dari dunia pewayangan. Dalam kisah Mahabharata, Jaladara merupakan nama kereta milik Prabu Kresna. 

Penggunaan nama tersebut memperkuat keterkaitan antara kereta wisata ini dengan identitas budaya Kota Surakarta yang dikenal sebagai kota budaya.

Tak hanya menjadi sarana wisata, Sepur Kluthuk Jaladara juga memiliki nilai edukasi. Kehadiran lokomotif uap memberi kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal teknologi transportasi masa lalu sekaligus memahami perkembangan sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Hingga kini, Sepur Kluthuk Jaladara tetap menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan Kota Solo. Perjalanan singkatnya bukan hanya mengajak wisatawan menikmati suasana kota dari atas rel, tetapi juga membawa mereka menelusuri jejak sejarah yang masih hidup di tengah perkembangan zaman. (*)

Editor : Kabun Triyatno
#sepur kluthuk Jaladara #kereta wisata #kereta uap #jalan slamet riyadi #transportasi