SUKOHARJO,. SOLOBALAPAN.COM — Kamis (9/7/2026) menjadi hari yang penuh ironi sekaligus titik balik dramatis bagi perjalanan politik Bupati Sukoharjo, Etik Suryani. Hanya dalam hitungan jam, nasib kader PDI Perjuangan ini berubah drastis: dari pusat perhatian dan tepuk tangan warga di siang hari, menjadi tahanan yang digiring tim penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat senja menjelang.
Panggung pencitraan publik dan realitas hukum itu bertubrukan langsung di rumah dinasnya, mengakhiri rentetan agenda formal kedinasan yang sempat ia pamerkan sejak pagi hari.
Siang: Narasi Janji Manis di Tengah Kekeringan
Catatan agenda Pemkab Sukoharjo menunjukkan aktivitas Etik dimulai pukul 09.00 WIB di Dukuh Sumberagung, Desa Kunden, Kecamatan Bulu. Di hadapan warga yang terhimpit krisis air bersih akibat musim kemarau, Etik hadir memboyong bantuan 4.000 liter air.
Di lokasi ini, ia sempat melontarkan janji politik khas kepala daerah. Menanggapi keluhan warga soal sumur dalam yang macet pasca-gempa, Etik dengan percaya diri memastikan perbaikan fasilitas tersebut.
"Nanti akan kami perbarui dan kami anggarkan pada [APBD] perubahan tahun ini agar bisa berfungsi kembali," ucap Etik di depan warga, Kamis (9/7/2026).
Panggung berlanjut ke Dukuh Jambal (Desa Kedungjambal) dan Dukuh Tunggul (Desa Weru) dengan agenda serupa—membagi ribuan liter air. Sekitar pukul 13.00 WIB, Etik beralih ke agenda strategis lainnya: menghadiri penyambutan personel Yonif TP 449/Sukoharjo di Tawangsari.
Didampingi jajaran elit daerah, termasuk Wakil Bupati Eko Sapto Purnomo dan Sekda Abdul Haris Widodo, Etik disambut yel-yel ratusan prajurit. Ia bahkan sempat memberikan pernyataan normatif mengenai kesiapan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk berkolaborasi demi ketahanan pangan wilayah.
Tidak ada satu pun tanda-tanda dari gestur sang bupati dua periode ini bahwa ia sedang berada di bawah intaian radar lembaga antirasuah.
Magrib: Tiga Mobil Hitam dan Akhir Operasi Senyap
Namun, tabir kepalsuan itu tersingkap tepat saat senja mulai turun di sekitar Rumah Dinas Bupati Sukoharjo. Ketika rombongan dinas sudah bubar, pengawasan senyap tim penindakan KPK mulai mendekat.
Berdasarkan kesaksian warga di sekitar lokasi kejadian, setidaknya tiga unit mobil MPV berwarna hitam tanpa identitas resmi terpantau merapat ke area ring satu bupati sebelum waktu Magrib. Sejumlah pria berpakaian rapi yang diduga kuat merupakan penyidik KPK sempat memantau situasi dari sebuah warung angkringan di dekat rumah dinas.
Tak lama setelah intaian matang, tim KPK langsung merangsek masuk ke dalam rumah dinas. Etik Suryani, yang beberapa jam sebelumnya bertindak sebagai pemegang otoritas tertinggi di Sukoharjo, keluar tanpa daya. Ia langsung digiring masuk ke dalam kendaraan petugas untuk dibawa ke Mapolresta Solo guna pemeriksaan maraton delapan jam, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta pada Jumat (10/7/2026) pagi.
Penangkapan kilat menjelang Magrib ini tidak hanya memutus rangkaian agenda formal Etik, tetapi juga membuka kotak pandora atas dugaan praktik lancung di lingkungan Pemkab Sukoharjo yang kini tengah diusut tuntas oleh KPK. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto