SOLOBALAPAN.COM – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), angkat bicara usai menerima gelar adat dan mengikuti prosesi ritual tradisional saat berkunjung ke Lampung.
Menurutnya, keikutsertaannya dalam rangkaian adat tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan tidak semestinya dikaitkan dengan kepentingan politik.
Dalam kunjungannya, Jokowi menerima penghormatan adat dari masyarakat Lampung sekaligus menjalani sejumlah prosesi tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya setempat.
Baca Juga: Warga Boyolali Pertanyakan Retribusi Sampah Rp5 Ribu, DLH: Hanya untuk Penerima Layanan
Kegiatan tersebut berlangsung di sela rangkaian safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan menarik perhatian publik.
Mengenakan kemeja putih polos dipadukan topi berwarna senada, Jokowi menyempatkan diri menyapa warga sebelum memberikan keterangan kepada awak media.
Ia menegaskan bahwa gelar adat yang diterimanya merupakan bentuk penghormatan dari masyarakat adat Lampung.
"Ya itu kan bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung. Bentuk penghormatan dari Istana Kedatun Keagungan Lampung. Dan saya merasa terhormat menerima penghargaan adat tersebut," ujar Jokowi.
Baca Juga: Tabuh Genderang Perang, Kuasa Hukum Ruben Onsu Siap Tempuh Jalur Hukum jika Jordi Nekat Bongkar Aib
Jokowi juga menanggapi munculnya berbagai spekulasi yang mengaitkan prosesi adat, termasuk ritual injak kepala kerbau yang dijalaninya, dengan kepentingan politik.
Menurutnya, pandangan semacam itu kurang tepat karena mengabaikan nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Saya sangat menyayangkan kalau semua hal ditarik ke ranah politik. Terlalu tidak nyambung. Kita harus terus menghargai adat istiadat, menghargai kearifan lokal, dan menghargai kebudayaan. Kebudayaan kita sangat beragam," tegasnya.
Jokowi menambahkan, ritual yang dijalaninya bukanlah tradisi baru ataupun kegiatan yang dibuat untuk kepentingan tertentu. Prosesi tersebut, kata dia, telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari budaya masyarakat adat Lampung.
"Itu ritual adat. Sekali lagi itu ritual adat. Yang sudah tidak hanya sekali dua kali, tetapi sudah ratusan kali dilaksanakan," pungkasnya. (dam/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto