SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Meski tidak memiliki sumber pasokan bahan baku kayu secara mandiri, Kota Solo kembali menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu sentra industri furnitur di Jawa Tengah.
Langkah ini dibuktikan melalui penyelenggaraan Srikayu Furni Fest Road to Interfex yang digelar sebagai ajang promosi produk furnitur karya perajin lokal menuju pasar yang lebih luas.
Strategi Promosi Kualitas Furnitur Lokal
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Solo, Agung Riyadi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kualitas furnitur buatan Solo kepada masyarakat luas sekaligus membuka peluang pasar hingga tingkat nasional.
Baca Juga: Deretan Kekejaman Aiptu N terhadap Istri Sirinya, Dicekoki Sabu hingga Disiksa Pakai Air Keras
"Solo tidak punya bahan baku kayu. Karena itu diperlukan festival seperti ini untuk menunjukkan bahwa Kota Solo mampu menciptakan furnitur berkualitas. Ini menjadi upaya promosi agar konsumen semakin mengenal produk-produk perajin Solo," ujar Agung Riyadi, Minggu (5/7/2026).
Menurut Agung, penyelenggaraan Srikayu Furni Fest juga menjadi langkah awal untuk mempertemukan para pelaku industri furnitur Solo dengan pasar yang lebih luas. Pada pelaksanaan tahun ini, sebanyak 25 komunitas dari wilayah Solo Raya turut ambil bagian memamerkan berbagai produk kreatif berbahan dasar kayu.
Selain sebagai arena pameran, gedung Srikayu Creative Hub juga difungsikan sebagai pusat kolaborasi antara pelaku usaha, kalangan akademisi, hingga komunitas kreatif. Fasilitas penunjang tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara gratis untuk berbagai kegiatan.
"Interfex kan ajang berskala nasional, harapannya perajin Solo siap bersaing dan produknya bisa semakin dikenal," kata Agung.
Dorong 3.000 Perajin Masuk Ekosistem E-Katalog
Agung menyebutkan, saat ini tercatat ada sekitar 3.000 perajin yang bergerak di sektor industri kreatif berbasis furnitur di Kota Solo. Guna memperluas jangkauan pasar, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terus mendorong para pelaku usaha tersebut memanfaatkan platform e-katalog agar dapat mengikuti pengadaan barang dan jasa pemerintah.
"Setiap Kamis ada pendampingan UMKM untuk masuk e-katalog. Misalnya untuk pengadaan meja dan kursi sekolah sebagai salah satu sumber pengadaan barang dan jasa pemerintah," jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan secara optimal gedung Srikayu Creative Hub sebagai ruang berkegiatan. Menurutnya, fasilitas tersebut memang disiapkan khusus oleh pemerintah untuk mendukung perkembangan industri kreatif di Kota Solo.
"Ini milik masyarakat. Silakan digunakan untuk berkegiatan. Mahasiswa juga kami beri kesempatan menggunakan tempat ini secara gratis selama enam bulan untuk memamerkan produknya," kata Respati Ardi.
Ia menambahkan, Pemkot Solo juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk memperluas akses pelaku UMKM masuk ke dalam sistem e-katalog. Dengan skema ini, produk furnitur lokal memiliki peluang lebih besar untuk masuk dalam plot belanja pemerintah.
"Kami mengajak UMKM masuk ke e-katalog agar pemerintah bisa membeli produk lokal melalui pengadaan barang dan jasa. Dengan begitu pasar semakin luas dan industri furnitur Solo semakin berkembang," pungkas Respati Ardi. (alf/an)