BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Puluhan masyarakat memadati lokasi situs sejarah di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali, pada Rabu (1/7) malam. Kehadiran mereka untuk mengikuti ritual tahunan "Puja Stupa Nepen" yang berlangsung khidmat.
Rangkaian acara sakral ini digelar di tiga lokasi berbeda secara berurutan, yaitu:
-
Umbul Gondang: Tempat pengambilan Tirta Suci (air suci).
-
Stupa 1: Situs stupa yang baru saja ditemukan di lahan warga.
-
Stupa Utama: Kawasan cagar budaya yang terletak di area makam desa.
Baca Juga: Tradisi Wahyu Kliyu Jatipuro Karanganyar, Warisan Budaya Takbenda yang Berawal dari Tolak Pagebluk
Koordinator kegiatan sekaligus Ketua Komunitas Nunggak Semi, Mujiharso, mengungkapkan bahwa esensi dari Puja Stupa Nepen tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Tradisi ini konsisten mengusung tema besar "Menyambung Kesadaran Lampau".
Menurut Muji, tema tersebut merupakan misi utama dari Nunggak Semi Institute untuk menggaungkan kembali semangat, nilai, dan kebijaksanaan para leluhur kepada generasi masa kini.
"Menyambung Kesadaran Lampau itu berarti menghubungkan kembali nilai, pengetahuan, atau kebijaksanaan dari masa lalu ke masa kini. Tujuannya agar warisan yang pernah ada tidak terputus oleh zaman dan generasi penerus tidak kehilangan jati diri," jelas Muji kepada wartawan ini, Kamis (2/7).
Tiga Lapisan Makna "Kesadaran Lampau"
Lebih lanjut, Muji membeberkan bahwa frasa tersebut memiliki tiga lapisan makna filosofis yang mendalam:
-
Secara Spiritual: Menghidupkan kembali kesadaran batin melalui latihan meditasi, perenungan, serta penghayatan terhadap ajaran luhur.
-
Secara Budaya: Melanjutkan ingatan kolektif terhadap tradisi dan sejarah leluhur agar tetap hidup di tengah gempuran modernisasi.
-
Secara Filosofis: Mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari mata rantai panjang kehidupan. Masa kini merupakan kelanjutan dari pengalaman masa lalu yang harus dijadikan landasan dalam mengambil keputusan.
Prosesi Ritual di Stupa Utama
Puncak acara yang berpusat di Stupa Utama Makam Desa Nepen berlangsung semarak dengan delapan rangkaian prosesi adat.
Rangkaian tersebut meliputi penggantian payung lama dengan payung baru, penyiraman air bunga (penjamasan) pada objek stupa, pengalungan ronce bunga melati, persembahan Tari Bedhayan, ujub sesaji, pendarasan mantra, Dharma Kawedhar (khotbah Dharma), dan ditutup dengan kenduri bersama warga.
Baca Juga: Takut UU ITE? Ini Alasan Sarah Gibson Belum Bongkar Nama Lengkap Wanita Inisial C
Muji mengakui ada sedikit pergeseran jadwal pada ritual awal. Pengambilan Tirta Suci di Umbul Gondang yang semula dijadwalkan pukul 20.00 WIB, terpaksa diundur menjadi pukul 21.00 WIB karena beberapa kendala teknis.
"Kami memilih Umbul Gondang karena air merupakan unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Tanpa air, tidak akan ada kehidupan di dunia,” tambahnya.
Keajaiban Umbul Gondang yang Kembali Mengalir
Ada cerita menarik dan bernuansa mistis di balik pemilihan Umbul Gondang. Muji menceritakan bahwa sumber air di umbul tersebut sempat mati suri atau tidak mengeluarkan air sama sekali selama beberapa waktu.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Sekitar lima hari setelah Stupa 1 ditemukan kembali di lahan milik salah seorang warga, sumber air di Umbul Gondang mendadak aktif lagi dengan debit air yang cukup besar. Bahkan, aliran air dari umbul tersebut mengalir melewati area stupa temuan terbaru.
“Dari kejadian unik itulah, Nunggak Semi Institute berinisiatif mengambil Tirta Suci di Umbul Gondang sebagai sarana utama untuk penjamasan stupa,” pungkas Muji. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto