Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Harga Beras C4 di Pasar Legi Solo Naik Lagi, Pedagang Mengeluh Daya Beli Emak-Emak Mulai Lesu

Alfida Nurcholisah • Jumat, 26 Juni 2026 | 16:48 WIB
Harga beras jenis C4 di Pasar Legi Solo kembali merangkak naik sebesar Rp500 per kilogram akibat keterlambatan panen. (M.Ihsan/solobalapan.com)
Harga beras jenis C4 di Pasar Legi Solo kembali merangkak naik sebesar Rp500 per kilogram akibat keterlambatan panen. (M.Ihsan/solobalapan.com)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Grafik harga komoditas beras di Pasar Legi Solo terpantau belum sepenuhnya stabil. Setelah sempat mengalami kenaikan secara bertahap selama dua bulan terakhir, beras jenis C4 kini kembali mengalami lonjakan harga sebesar Rp500 per kilogram dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Kenaikan ini disinyalir kuat akibat faktor keterlambatan masa panen di tingkat petani yang memicu menipisnya pasokan ke pedagang. Imbasnya, kondisi ini mulai memukul daya beli masyarakat yang kian menurun.

Sri Ningsih, salah seorang pedagang beras eceran di Pasar Legi mengungkapkan, saat ini beras C4 terpaksa dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang tertahan di angka Rp14.500 per kilogram.

Baca Juga: Kerangka Skuad Persis Solo di Liga 2 Ternyata Sudah Rampung 80 Persen, Amankan Eks Garudayaksa hingga PSS Sleman

"Sudah seminggu ini naik lagi. Beras putih naik karena panennya telat. Kalau pasokan panennya melimpah biasanya harga otomatis turun. Khusus C4 ini naik karena menirnya sudah benar-benar dihilangkan (kualitas bersih), jadi naik Rp500 per kilo," ujar Sri saat ditemui di lapaknya, Jumat (26/6/2026).

Menurut Sri, lonjakan harga ini langsung direspons negatif oleh konsumen dengan cara mengurangi volume pembelian. Meski beras merupakan kebutuhan pokok wajib, banyak pelanggan setianya yang kini memilih membeli dalam eceran jumlah kecil.

"Kalau pas harga naik tinggi begini, yang beli otomatis juga berkurang jauh," imbuhnya lesu.

Sri membeberkan, untuk menyiasati perputaran modal, ia sengaja tidak menyetok beras terlalu banyak. Persediaan di lapaknya hanya berkisar dua hingga tiga kuintal untuk berbagai jenis beras, yang terkadang habis dalam sepekan namun tidak jarang pula menyisa.

Sebagai alternatif, Sri juga menyediakan beras desa seharga Rp13.500 per kilogram, beras merah Rp17.000 per kilogram karena keterbatasan petani yang menanam, serta beras Bulog kemasan program SPHP ukuran 5 kilogram yang dibanderol Rp56.500. Sebaliknya, harga beras ketan justru terpantau turun dari Rp22.700 menjadi Rp22.000 per kilogram.

Baca Juga: Catatkan 103 Penampilan, Ini Rapor Mentereng Sutanto Tan Sebelum Angkat Koper dari Persis Solo

Faktor Serapan Bulog dan Musim Sura

Senada dengan Sri, pedagang grosir sekaligus eceran di Pasar Legi, Eni Pratiwi, menyebut riwayat kenaikan harga beras ini sebenarnya sudah merayap sejak dua bulan ke belakang. Hampir setiap kali pasokan datang dari selepan (penggilingan), harga beras naik tipis berkisar Rp100 per kilogram.

"Selama dua bulan terakhir itu naik terus secara ritmis. Sekali kirim naik Rp100, selang beberapa hari naik lagi Rp100. Baru sekitar seminggu ini ada penurunan tipis sekitar Rp100, tapi itu belum bisa dibilang turun karena angka dasarnya masih sangat tinggi," papar Eni.

Saat ini, Eni menjual beras C4 kualitas super di kisaran Rp15.000 per kilogram, sedangkan untuk kualitas medium berada di angka Rp14.500 per kilogram. Adapun jenis premium legendaris seperti Rojolele super masih kokoh bertahan di harga Rp17.000 per kilogram akibat pasokan yang sangat selektif.

Eni menegaskan, fluktuasi harga saat ini masih jauh dari kata normal. Menurut indikator pedagang, harga beras baru bisa dikatakan merosot jika varian premium sudah mampu kembali menyentuh angka Rp14.000 per kilogram.

Baca Juga: Kini Masih Geger, Ini Beda Keinginan Sarwendah dan Ruben Onsu di Tengah Konflik Soal Nafkah Thalia dan Thania

Berdasarkan analisanya, lonjakan harga yang terjadi belakangan ini dipicu oleh dua faktor utama nasional, yakni mundurnya jadwal panen raya dan tingginya intensitas penyerapan gabah kering oleh Bulog.

"Kalau Bulog menyerap dalam jumlah besar, otomatis pasokan gabah untuk selepan lokal jadi terbatas dan rebutan, makanya harganya terus terkerek naik," urai Eni.

Di sisi lain, Eni menambahkan bahwa lesunya aktivitas transaksi di Pasar Legi saat ini juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Momentum libur sekolah yang berbarengan dengan masuknya bulan Sura dalam penanggalan Jawa membuat geliat pasar melambat.

Baca Juga: Rilis Album Kedua 'Semoga Hanya di Mimpi', Bernadya Angkat Isu Cherophobia dan Ketakutan untuk Bahagia

"Sudah siklus tahunan, kalau bertepatan dengan libur sekolah apalagi bulan Sura, masyarakat jarang yang menggelar hajatan (punya gawe). Jadi serapan pasar untuk konsumsi pesta memang sedang sepi," pungkasnya. (alf/red)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#komoditas beras #harga beras naik #sepi pembeli #keterlambatan masa panen #pasar legi