Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Harga Sparepart Melambung Tinggi, Omzet Pedagang Pasar Notoharjo Solo Anjlok hingga 90 Persen

Alfida Nurcholisah • Kamis, 25 Juni 2026 | 18:50 WIB
Imbas lonjakan harga sparepart kendaraan, omzet pedagang di Pasar Notoharjo Solo anjlok drastis hingga 90 persen. (Arief Budiman/solobalapan.com)
Imbas lonjakan harga sparepart kendaraan, omzet pedagang di Pasar Notoharjo Solo anjlok drastis hingga 90 persen. (Arief Budiman/solobalapan.com)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Badai ekonomi mulai menghantam para pelaku usaha mikro di sektor otomotif Kota Bengawan. Kenaikan harga suku cadang (sparepart) kendaraan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir memicu penurunan daya beli masyarakat secara drastis di Pasar Notoharjo, Semanggi, Solo. Tak main-main, omzet pendapatan para pedagang dilaporkan terpangkas hingga 90 persen.

Kondisi pasar onderdil yang populer dengan sebutan Pasar Klitikan ini kian lesu. Kenaikan harga modal dari pihak distributor memaksa pedagang menaikkan harga eceran, yang berujung pada sepinya kunjungan konsumen.

Kondisi Terburuk Pasca-Pandemi: Sehari Sering Zong

Baca Juga: Mariatul Qibti Ikram Terpilih sebagai Duta Perpustakaan ISI Surakarta 2026, Siap Kampanyekan Literasi Kampus

Salah satu pedagang sparepart di Pasar Notoharjo, Irfan Rafianto, mengungkapkan bahwa lesunya aktivitas jual beli dalam beberapa pekan terakhir merupakan salah satu fase terburuk yang harus dihadapi pedagang sejak pandemi Covid-19 berakhir.

“Sepi sekali. Kalau yang paling parah ya beberapa minggu terakhir ini. Pernah dalam sehari tidak ada barang yang laku sama sekali,” keluh Irfan saat ditemui di area pasar, Kamis (25/6).

Menurut Irfan, lonjakan harga dipicu oleh meroketnya harga bahan baku produksi di tingkat manufaktur serta rantai pasok komponen pendukung. Komoditas yang masuk ke lapaknya rata-rata mengalami kenaikan modal yang cukup signifikan.

“Harga dari sana naik, otomatis harga jual ke konsumen juga harus ikut naik. Bahkan ada komponen yang naik lebih dari Rp30 ribu per barang,” ujarnya.

Kondisi dilematis ini membuat pelanggan setianya menjerit. Pasar Notoharjo yang selama ini dikenal sebagai rujukan berburu onderdil murah di Solo Raya, kini kehilangan taji kompetitifnya.

Pendapatan Bersih Merosot Drastis

Dampak paling nyata dari sepinya pasar langsung memukul isi dompet para pedagang. Irfan membeberkan perbandingan omzet harian yang merosot sangat tajam.

Baca Juga: Update Proses Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker, Erick Thohir Kejar Target Supaya Debut di Piala AFF 2026

Demi menyiasati sisa napas usahanya, Irfan kini mulai beralih memanfaatkan ekosistem digital secara mandiri melalui Facebook Marketplace. Langkah ini dipilih karena dirasa lebih ramah bagi pedagang konvensional dibanding platform e-commerce raksasa.

“Mau tidak mau harus main online. Kalau di Facebook Marketplace kita relatif tidak perang harga terlalu ketat, beda dengan aplikasi belanja online lain yang banting-bantingannya ekstrem,” tuturnya.

Bakul Mobil Jadi Penyelamat, Komponen Bodi Tetap Dicari

Keluhan senada turut disuarakan oleh pedagang lainnya, Bontos Margono. Ia menyebut tren kenaikan harga ini sudah berjalan konstan selama dua bulan terakhir untuk hampir seluruh jenis suku cadang kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

“Sudah sekitar dua bulan ini harga naik semua. Otomatis berpengaruh ke jumlah pembeli yang datang,” kata Bontos.

Bontos merinci, persentase kenaikan harga sparepart bervariasi antara 10 hingga 30 persen tergantung jenis dan orisinalitas barang. Kendati pasar sedang lesu, komponen kosmetik kendaraan seperti kaca spion dan beberapa bagian bodi mobil/motor masih menjadi komoditas yang paling sering ditanyakan konsumen.

Baca Juga: Mantan Rekan Grup Bongkar Keseharian Sarwendah Sebelum Terkenal dan Alasan Didepak dari Cherrybelle

Menariknya, di tengah minimnya pembeli eceran dari masyarakat umum, geliat pasar saat ini justru disokong oleh para pelaku bisnis jual beli mobil bekas.

“Sekarang yang paling sering datang dan muter di pasar justru bakul (pedagang) mobil seken. Mereka sengaja datang ke sini untuk berburu sparepart tertentu demi mendandani mobil dagangan mereka,” pungkas Bontos.

Para pedagang di Pasar Notoharjo kini hanya bisa berharap ada intervensi atau pemulihan stabilitas ekonomi makro agar daya beli masyarakat kembali bergairah. Tanpa adanya perbaikan situasi, mereka khawatir tren penurunan transaksi ini akan memaksa sejumlah pelapak gulung tikar. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kenaikan harga sparepart #pedagang Pasar Notoharjo #Pasar Klithikan #pasar onderdil #pasar lesu