SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Asap tipis mengepul dari panggangan sederhana di tepi jalan kawasan pintu belakang Balai Kota Surakarta.
Sepasang tangan yang dulu berkali-kali terangkat ke udara sebagai tanda kemenangan di atas ring tinju, kini dengan cekatan sibuk menata potongan daging ayam asap ke dalam wadah saji.
Di balik lapak kuliner Sei Ayam Rote itu berdiri sosok Ricky Johannes Manufoe.
Ia adalah seorang petinju profesional legendaris yang hingga detik ini masih menyandang status mentereng sebagai juara nasional Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) kelas bantam.
Bagi sebagian orang, mungkin sulit membayangkan seorang juara tinju nasional, bahkan mantan petinju peringkat satu Asia, menghabiskan hari-harinya di balik kepulan asap makanan kaki lima.
Namun bagi Ricky, hidup adalah tentang arena pertarungan yang terus berganti. Jika dulu ia bertarung demi sabuk juara di atas ring, kini ia berjuang demi masa depan keluarga dari balik lapak sederhana miliknya.
Nama Ricky Manufoe sendiri bukanlah sosok asing di dunia tinju profesional tanah air. Petinju bertalenta asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tercatat pernah menempati peringkat nomor satu Asia versi Pan Asian Boxing Association (PABA) pada tahun 2007.
Enam tahun berselang, ia kembali mengulang kejayaan serupa sebagai petinju peringkat satu Asia versi World Boxing Council (WBC) Asia pada 2013.
Baca Juga: Siap Guncang Musim Panas, Wonho Konfirmasi Comeback Juli 2026!
Meski telah mencicipi berbagai panggung bergengsi di tingkat internasional, Ricky secara blak-blakan mengakui bahwa rentetan prestasi di atas ring tidak selalu berbanding lurus dengan jaminan kesejahteraan hidup.
Fakta pahit itulah yang memicunya untuk mulai memutar otak mencari sumber penghasilan alternatif di luar dunia olahraga baku hantam.
Saat ini, status juara nasional KTPI kelas bantam yang disandang Ricky memiliki batas waktu hingga November mendatang. Jika tidak ada agenda pertandingan resmi untuk mempertahankan sabuk tersebut, maka gelarnya akan otomatis dikosongkan.
“Statusnya masih juara nasional KTPI kelas bantam. Cuma batas waktu saya sampai bulan November ini. Kalau tidak dipertahankan, nanti gelarnya dikosongkan supaya bisa diperebutkan oleh petinju yang lain,” ungkap Ricky kepada pihak media pada Senin (22/6/2026).
Perjuangan Keras Membagi Waktu: Subuh Samsak, Siang Jualan
Di tengah statusnya yang masih aktif sebagai jawara nasional, Ricky menjalani realita hidup yang jauh dari kemewahan atlet profesional bersponsor.
Sejak tahun 2020, ia memilih merintis usaha Sei Ayam Rote di Kota Solo untuk menopang kebutuhan finansial keluarganya.
Perjalanan kulinernya tidak instan. Di awal mula berdiri, menu pertama yang dijajakannya justru bukan daging asap, melainkan menu singkong keju.
Berkat kegigihannya, usaha tersebut perlahan naik kelas. Titik balik popularitas usahanya mencuat setelah beberapa kreator konten kuliner papan atas sengaja mengulas keunikan rasa masakan khas Indonesia Timur buatannya.
“Terakhir diliput oleh vlogger-vlogger kuliner seperti Ko Gun dan Ery Makmur. Sejak itu lapak mulai tambah ramai lagi sampai sekarang ini, saya sangat bersyukur,” tuturnya ramah.
Namun, kesuksesan lapak kaki lima ini harus dibayar mahal dengan cucuran keringat ekstra. Pada masa-masa awal merintis usaha, Ricky dituntut membagi waktu dan fisik secara ekstrem.
Setiap hari, ia wajib memulai aktivitas sejak pukul lima subuh untuk latihan fisik. Beres berlatih, ia langsung beralih menyiapkan gerobak dan berjualan hingga sore hari. Tak berhenti di situ, malam harinya ia gunakan untuk memotong dan mengolah bahan baku daging hingga tengah malam.
“Subuh latihan fisik, siang jualan, sorenya kembali latihan tinju lagi. Malam hari lanjut masak bahan jualan sampai jam 12 malam. Istirahat sebentar, subuh sudah harus mulai lagi dari awal. Aduh, rasanya hidup berat banget waktu itu,” kenang Ricky sembari tertawa lepas mengingat masa sulitnya.
Bagi Ricky, tantangan terberat justru bukan saat menghadapi bogem mentah lawan di atas ring, melainkan perjuangan mengatur stamina secara mandiri demi bertahan hidup di tengah minimnya sokongan dana sponsor olahraga.
“Kalau ada sponsor enak, kita tinggal fokus latihan. Lawan-lawan saya tahunya hanya makan, tidur, dan latihan saja. Sedangkan saya harus nekat jualan karena tidak ada pemasukan dari mana lagi,” tambahnya.
Baca Juga: Kisah Redburn Karya Herman Melville, Kritik Sosial Abad ke-19
Menjaga Asa Lewat Sasana Kecil dan Rencana Pensiun
Kendati tenaganya terkuras untuk mencari nafkah, kecintaan Ricky terhadap dunia tinju tidak pernah padam. Di sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri mendirikan sasana tinju kecil bernama Manufoe Team Solo.
Tempat ini ia dedikasikan sebagai wadah berlatih gratis bagi anak-anak dan pemuda di lingkungan sekitar yang tertarik mendalami olahraga tinju.
Kini, menginjak usia 38 tahun, Ricky mulai realistis memikirkan rencana masa depannya setelah gantung sarung tinju kelak. Ia mengaku masih membuka peluang lebar-lebar untuk mempertahankan gelar juaranya November nanti jika ada pihak sponsor yang bersedia menyokong dana.
Namun, andai kesempatan emas itu tidak kunjung datang, ia mengaku sudah ikhlas dan siap mengakhiri karier profesionalnya dalam satu hingga dua tahun ke depan demi fokus membesarkan buah hati dan memajukan bisnis kulinernya.
Baca Juga: Mengupas Seks dan Spiritualitas di Novel Eleven Minutes Paulo Coelho
“Mungkin saya aktif sekitar setahun dua tahun ke depan lagi. Kalau ada sponsor buat mempertahankan sabuk juara ya saya main lagi satu atau dua kali. Kalau tidak ada, ya biar saja gelarnya dilepas.
Setelah itu saya stop bertanding dan fokus mengurus anak yang sudah mulai besar sambil terus berjualan,” pungkasnya menutup obrolan. (hj/an)