Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dulu Tak Pernah Sekolah dan Makan Sehari Sekali, Kini Nayla Berani Bermimpi Jadi Dokter lewat Sekolah Rakyat

Alfida Nurcholisah • Minggu, 21 Juni 2026 | 16:53 WIB
Kisah Nayla di Sekolah Rakyat: Tak Pernah Sekolah, Kini Bermimpi Jadi Dokter. (Alfida Nurchlisah/solobalapan.com)
Kisah Nayla di Sekolah Rakyat: Tak Pernah Sekolah, Kini Bermimpi Jadi Dokter. (Alfida Nurchlisah/solobalapan.com)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Setiap pagi, anak-anak seusia Nayla biasanya berangkat ke sekolah dengan seragam rapi dan tas di punggung. Mereka bercanda dengan teman-teman, menghafal pelajaran, lalu pulang membawa cerita baru dari ruang kelas.

Namun masa kecil Nailla Marsha Nabila, atau yang akrab disapa Nayla, berjalan berbeda.

Di usia 10 tahun, ia tumbuh tanpa pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Tidak ada seragam, tidak ada buku pelajaran, apalagi suara bel masuk kelas yang menandai dimulainya hari belajar.

Baca Juga: Bukan PSIS Semarang, Klub Baru Jateng United di Super League Siap Ambil Alih Kemegahan Stadion Jatidiri?

Yang ada hanyalah perpindahan dari satu rumah saudara ke rumah saudara lain setelah kedua orang tuanya tidak lagi hadir dalam kehidupannya.

Saat ditanya mengapa selama bertahun-tahun tidak bersekolah, jawabannya singkat, namun menyimpan luka yang dalam.

"Takut," ucapnya pelan.

Rasa takut itu lahir dari ketidaktahuan. Ia tidak mengenal dunia sekolah. Tidak tahu bagaimana rasanya duduk di kelas atau menyapa teman sebaya. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia bahkan kerap menjadi bahan ejekan karena tidak sekolah.

Baca Juga: Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama Harus Berjuang dari P20 di Sirkuit Brno, Akui Kesalahan di Kualifikasi

Alih-alih belajar membaca atau berhitung, hari-harinya diisi dengan membantu keluarga yang merawatnya, menonton televisi, atau bermain sendiri di rumah budhe-nya.

Di balik masa kecil yang sunyi itu, Nayla juga akrab dengan keterbatasan.

Ada masa ketika ia hanya makan sekali dalam sehari.

Jika rasa lapar datang di siang hari, ia harus menahannya hingga malam tiba.

"Waktu sama Pakdhe, kalau lapar ya nunggu sampai malam," tuturnya sembari menundukkan kepala.

Setiap pagi ia memang dibekali uang Rp5.000. Namun uang itu bukan untuk membeli makanan berat. Biasanya ia gunakan membeli jajanan sederhana di warung dekat rumah.

Baca Juga: Fakta Perjalanan Cinta Asnawi Mangkualam dan Yuriska Patricia, Dari Kondangan Bareng Berujung Lamaran

Begitulah hari-harinya berlalu. Bertahun-tahun.

Tanpa sekolah. Tanpa kepastian masa depan.

Tetapi diam-diam, Nayla menyimpan keinginan yang sama seperti anak-anak lain.

Ia ingin belajar.

Ia ingin punya teman.

Ia ingin hidup yang lebih baik.

Harapan Itu Datang dari Sekolah Rakyat

Kesempatan yang selama ini hanya menjadi angan akhirnya hadir ketika Nayla diterima di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 02 Surakarta.

Di tempat itulah hidupnya mulai berubah.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki jadwal belajar. Ia mengenal guru, teman-teman sebaya, dan rutinitas yang sebelumnya terasa asing.

Bangun pagi, mengikuti pelajaran, beribadah bersama, hingga belajar hidup mandiri di asrama.

Hal-hal sederhana yang mungkin dianggap biasa oleh anak lain, menjadi pengalaman baru yang sangat berarti bagi Nayla.

Baca Juga: Ivan Gunawan Akhirnya Bongkar Alasan Tak Mau Nikahi Ayu Ting Ting, Soroti Ketakutan Merusak Hubungan

Senyumnya mengembang saat menceritakan kehidupan barunya.

"Dulu makan sehari sekali, tapi di sini bisa tiga kali sehari. Ada snack, sabun sama parfum juga," katanya dengan wajah berbinar.

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar perubahan yang ia rasakan.

Bagi sebagian orang, makan tiga kali sehari mungkin hal biasa. Namun bagi Nayla, itu adalah kemewahan yang dulu hanya bisa dibayangkan.

Dari Tidak Bisa Membaca, Kini Menyukai Matematika

Perjalanan belajar Nayla tidak selalu mudah.

Saat pertama kali masuk sekolah, banyak hal yang harus ia kejar. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus mengejar pelajaran yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

Namun semangatnya tak pernah surut.

Dalam waktu sekitar sembilan bulan, perubahan mulai terlihat.

Anak yang dulu tidak pernah mengenal ruang kelas kini mulai menikmati pelajaran. Matematika dan Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran favoritnya.

"Senang bisa belajar. Kalau susah biasanya tanya ke Bu Guru," ujarnya sambil tersenyum.

Wali asuhnya di Sekolah Rakyat, Renita, menyebut Nayla sebagai anak yang memiliki kemauan belajar tinggi.

Baca Juga: Sony Sonjaya Seret Nama Nanik S Deyang dalam Pusaran Korupsi BGN, Ganti Nama Dapur 3 Kali Tanpa Prosedur Resmi

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal sebelumnya, ia ternyata sudah bisa membaca dan menulis berkat belajar secara sederhana dari tetangga dan kakaknya.

"Dia bangun paling pagi dibanding teman-temannya. Akademiknya juga menunjukkan perkembangan yang baik karena anaknya tidak malas-malasan," kata Renita.

Di asrama, Nayla juga belajar banyak hal tentang kemandirian. Ia kini terbiasa mencuci pakaian sendiri, menyapu, membersihkan kamar, dan mengurus kebutuhan hariannya tanpa bergantung kepada orang lain.

Luka yang Tetap Disimpan dalam Diam

Di balik semangat dan senyumnya, Nayla menyimpan kisah yang membuat banyak orang terdiam.

Ia mengaku hanya beberapa kali bertemu kedua orang tuanya.

Bahkan kenangan tentang sang ayah begitu samar.

Pertemuan terakhir yang masih ia ingat terjadi saat dirinya berusia tujuh tahun.

"Kalau bapak waktu umur tujuh tahun ketemu dan jajan di taman," kenangnya.

Sedangkan ibunya pernah ia temui di tempat kerja. Namun pertemuan itu berlangsung singkat tanpa banyak percakapan.

Meski tumbuh tanpa kehadiran orang tua, Nayla tidak menyimpan kebencian.

Baca Juga: Persita Tangerang Rombak Skuad Besar-besaran, Depak 4 Legiun Asing dan 9 Pilar Lokal

Tidak ada amarah yang keluar dari mulutnya.

Yang tersisa justru harapan.

Harapan yang terus ia pelihara meski hidup berkali-kali mengujinya.

Mimpi Besar dari Gadis Kecil

Saat ditanya tentang cita-citanya, jawaban Nayla keluar tanpa ragu.

"Pengen jadi dokter."

Bagi gadis kecil berjilbab putih itu, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan.

Ia ingin membantu orang-orang yang sakit.

Lebih dari itu, ia ingin membalas kebaikan keluarga yang selama ini merawat dan membesarkannya.

"Kalau punya uang pengen bisa membantu keluarga untuk beli sayur," katanya polos.

Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan impian besar seorang anak yang pernah hidup dalam kekurangan.

Harapan serupa juga diungkapkan kakaknya, Punggo Haryo Seto (15).

Baca Juga: Jennifer Coppen Bocorkan Biaya Nikah dengan Justin Hubner Tembus Angka Fantastis, Ini Detail Mahar Emas dan Uang Euro dari Bek Timnas

Saat mengambil rapor sang adik, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia melihat Nayla akhirnya memperoleh kesempatan bersekolah.

"Semoga bisa membantu keluarga dan sampai cita-citanya," ujarnya.

Kini Nayla memang belum mengenakan jas putih dokter yang ia impikan.

Jalannya masih panjang.

Namun satu hal telah berubah.

Anak yang dulu takut memasuki ruang kelas kini berani menatap masa depan.

Dari bocah yang pernah hidup tanpa sekolah dan makan hanya sekali sehari, Nayla mulai menulis kisah barunya di Sekolah Rakyat.

Sebuah kisah tentang harapan yang tumbuh dari keterbatasan, dan mimpi yang perlahan menemukan jalannya. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Naila Marsha Nabila #Nayla Sekolah Rakyat #anak tidak sekolah #bangku sekolah #Sekolah Rakyat