SOLOBALAPAN.COM – Halaman SMA Negeri 8 Surakarta berubah menjadi panggung budaya yang meriah saat digelarnya Pagelaran Wayang Kulit Multilayar Spektakuler pada Jumat (19/6/2026) malam.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menjadi wujud kolaborasi antara dunia pendidikan, seni tradisi, dan inovasi budaya untuk menjangkau generasi muda.
Pagelaran ini merupakan hasil kerja sama Program Inovasi Seni Nusantara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sanggar Seni Sekar Laras Mapan, serta Karawitan Laras SMAPAN.
Mengangkat lakon “Cinta di Tengah Anala”, pertunjukan dikemas dengan konsep multilayar yang memadukan unsur tradisi dan teknologi.
Menariknya, cerita disajikan dalam tiga bahasa sekaligus, yakni Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, sehingga dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.
Kepala SMA Negeri 8 Surakarta, Sukarno, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para siswa untuk mengembangkan potensi di bidang seni, khususnya karawitan, pedalangan, dan seni pertunjukan tradisional.
“Ini merupakan ruang yang sangat berharga bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat, khususnya di bidang seni tradisional dan budaya lokal,” ujarnya.
Menurut Sukarno, sekolah berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan seni budaya di lingkungan pendidikan.
Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat terus berkembang di masa mendatang.
“Harapannya, kerja sama ini bisa terus berlanjut dan membuka peluang bagi SMA Negeri 8 Surakarta menjadi sekolah mitra atau laboratorium pengembangan seni budaya,” tambahnya.
Sementara itu, dosen Pedalangan ISI Surakarta sekaligus penggagas program, Halintar Cokro Patnomo, menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara yang memperoleh dukungan pendanaan dari pemerintah.
Ia menyebut terdapat empat unsur utama yang terlibat dalam program tersebut, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ISI Surakarta, Sanggar Seni Sekar Laras Mapan, serta SMA Negeri 8 Surakarta sebagai lokasi pelaksanaan.
Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah dalang muda tampil membawakan lakon yang telah dipersiapkan. Mereka berasal dari kalangan siswa maupun alumni SMA Negeri 8 Surakarta.
Beberapa nama yang tampil di antaranya Ki Arysad Maulana, Ki Bisma Sakti Nugraha, Nyai Sinanggit Gendhing Asmoro, dan Ki Raysandy Satrio. Sementara kelompok Dalang Sandosa diperankan oleh Galang Adhi, Tasbih Fanani, dan Nizar Dwi. Adapun posisi sutradara dipegang oleh Raysandy Satrio Wicaksono.
Menariknya, proses persiapan pertunjukan ini relatif singkat. Para pengrawit dan pendukung acara hanya menjalani latihan selama sekitar 20 hingga 25 hari.
Namun, keterbatasan waktu tersebut tidak mengurangi kualitas penampilan yang ditunjukkan para peserta.
Pagelaran juga melibatkan para siswa SMA Negeri 8 Surakarta sebagai pengrawit dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Sanggar Seni Sekar Laras Mapan, tokoh masyarakat setempat, para alumni, serta tamu undangan dari lingkungan sekitar sekolah.
Kegiatan ini turut menarik perhatian berbagai media yang hadir untuk meliput jalannya acara. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui pagelaran Wayang Kulit Multilayar Spektakuler ini, SMA Negeri 8 Surakarta bersama para mitra berharap seni wayang dapat terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa.
Kolaborasi lintas institusi tersebut juga diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat ekosistem seni budaya di kalangan pelajar dan generasi muda Kota Surakarta. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto