Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dilema Sekolah Rakyat Sragen: Proyek Sudah 80 Persen Rampung, Peminat Jenjang SD Baru Lima Siswa

Ahmad Khairudin • Selasa, 16 Juni 2026 | 05:46 WIB
Pembangunan Sekolah Rakyat di Mondokan, Sragen, telah mencapai 80 persen. (Ahmad Kairudin/solobalapan.com)
Pembangunan Sekolah Rakyat di Mondokan, Sragen, telah mencapai 80 persen. (Ahmad Kairudin/solobalapan.com)

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Pembangunan kompleks Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, terus dikebut menjelang dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027.

Hingga pertengahan Juni 2026, progres fisik proyek tersebut telah mencapai sekitar 80 persen dan ditargetkan selesai pada Juli mendatang.

Meski pembangunan berjalan sesuai percepatan yang direncanakan, Pemerintah Kabupaten Sragen kini menghadapi tantangan lain, yakni minimnya jumlah pendaftar untuk jenjang Sekolah Dasar (SD).

Baca Juga: Bedah Sastra 'A Farewell to Arms': Surat Cinta Stoik Hemingway dari Puing Perang Dunia I

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengatakan pihaknya terus mengawal penyelesaian pembangunan agar sekolah dapat segera digunakan.

Namun, jika bangunan belum sepenuhnya rampung saat tahun ajaran baru dimulai, proses pembelajaran akan tetap berjalan dengan memanfaatkan fasilitas transisi yang telah disiapkan.

“Targetnya memang bulan Juli harus sudah selesai. Kalau belum selesai, pembelajaran sementara menggunakan sekolah transisi yang sudah disiapkan,” kata Sigit, Senin (15/6).

Berbeda dengan jenjang SMP dan SMA yang mendapat respons positif dari masyarakat, minat pendaftaran untuk tingkat SD masih sangat rendah. Saat ini, jumlah siswa yang terdaftar di jenjang SD baru mencapai lima orang.

Baca Juga: Rumah Sekaligus Bengkel Motor di Ngemplak Boyolali Terbakar, Diduga Dipicu Rebusan Air yang Ditinggal

Padahal, Sekolah Rakyat Mondokan menyiapkan kuota sebanyak 90 siswa untuk tiga rombongan belajar (rombel) di tingkat SD. Sementara untuk jenjang SMP dan SMA, masing-masing telah memenuhi kuota 90 siswa atau tiga romel yang tersedia.

Menurut Sigit, rendahnya minat pendaftaran di tingkat SD dipengaruhi faktor psikologis orang tua yang masih enggan berpisah dengan anak-anak mereka yang berusia dini.

Konsep pendidikan yang menerapkan sistem asrama maupun semi-asrama membuat sebagian orang tua merasa belum siap melepas anak mereka untuk tinggal jauh dari keluarga.

“Untuk anak-anak SD memang tantangannya berbeda. Banyak orang tua yang masih merasa berat dan tidak tega jika harus berpisah dengan anaknya karena masih usia dini,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemkab Sragen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah pendaftar. Sosialisasi terus digencarkan hingga tingkat desa dengan melibatkan camat, kepala desa, hingga pendamping desa.

Baca Juga: Ricky Nelson Resmi Jadi Pelatih Persis Solo, Targetkan Promosi ke Super League

Pemerintah berharap pendekatan secara langsung kepada masyarakat dapat memberikan pemahaman lebih luas mengenai manfaat dan konsep pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat.

“Kami sudah mengumpulkan para kepala desa dan camat untuk terus melakukan sosialisasi. Pendamping desa juga kami libatkan agar bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya terkait jenjang SD,” jelas Sigit.

Melalui langkah tersebut, Pemkab Sragen berharap jumlah pendaftar jenjang SD dapat meningkat sebelum Tahun Ajaran Baru 2026/2027 dimulai sehingga seluruh kuota yang tersedia dapat terisi secara optimal.(din/an)



Editor : Andi Aris Widiyanto
#pembangunan sekolah rakyat #peminat sekolah rakyat sepi peminat #sekolah rakyat di sragen #sragen #Sekolah Rakyat