SOLOBALAPAN.COM - Sorot lampu panggung dan deretan penampilan tari menjadi hal yang pertama kali dilihat penonton saat menyaksikan Pergelaran Tari Kinarya Gatra 2026 di Teater Besar ISI Surakarta.
Namun di balik pertunjukan yang berlangsung selama dua hari tersebut, terdapat proses panjang yang melibatkan puluhan mahasiswa untuk mewujudkan sebuah pergelaran seni.
Kinarya Gatra merupakan pergelaran tari yang digelar mahasiswa Program Studi Tari angkatan 2023 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 11–12 Juni 2026. Acara berlangsung dalam dua sesi setiap harinya, yakni pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB.
Bagi penonton, Kinarya Gatra mungkin hanya terlihat sebagai panggung untuk menampilkan karya tari. Namun bagi para mahasiswa yang terlibat, acara tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan kreativitas, kerja sama, dan pengalaman mengelola sebuah produksi pertunjukan.
Membangun Sistem Manajemen Pertunjukan yang Profesional
Ketua Manajemen Kinarya Gatra, Senda Natasa, menjelaskan bahwa Kinarya Gatra tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan karya tari, tetapi juga sarana bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah pertunjukan disiapkan dari belakang layar.
"Kami tidak hanya belajar tentang karya tari, tetapi juga bagaimana mengelola sebuah pertunjukan secara profesional," ujarnya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak dikelola secara terpisah oleh masing-masing kelompok, mahasiswa angkatan 2023 mencoba membangun sistem kerja bersama melalui sebuah manajemen pertunjukan bernama Kinarya Gatra.
Melalui manajemen tersebut, mahasiswa belajar beberapa poin penting manajemen seni, di antaranya:
* Membagi peran kepanitiaan secara adil.
* Menyusun strategi publikasi media.
* Menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
* Mengatur seluruh kebutuhan teknis pertunjukan.
Pengalaman berharga itu menjadi bekal nyata yang tidak selalu diperoleh saat berada di ruang kelas atau studio latihan.
Totalitas 90 Mahasiswa: Berperan Ganda di Atas dan di Luar Panggung
Sekitar 90 mahasiswa terlibat dalam penyelenggaraan Kinarya Gatra. Mereka tidak hanya tampil sebagai penari, tetapi juga menjadi kru, panitia, dan tim produksi yang bekerja di balik layar.
Menariknya, setiap mahasiswa menjalankan lebih dari satu peran. Saat tidak tampil di atas panggung, mereka membantu mengatur jalannya acara, mempersiapkan kebutuhan teknis, hingga memastikan pertunjukan berjalan sesuai rencana.
"Semua mahasiswa terlibat. Yang tampil pada hari kedua bisa membantu sebagai kru pada hari pertama, begitu juga sebaliknya," kata Senda.
Persiapan Kinarya Gatra sendiri telah dimulai sejak akhir Maret 2026. Berbagai rapat dan koordinasi dilakukan untuk menyusun struktur organisasi, membagi tugas, serta mempersiapkan kebutuhan produksi yang cukup kompleks.
Antusiasme Tinggi Masyarakat Solo Terhadap Seni Tari
Meski melelahkan, proses tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan karya seni yang baik, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses penyelenggaraan pertunjukan.
Antusiasme masyarakat terhadap pergelaran tari ini juga menjadi penyemangat tersendiri bagi para mahasiswa. Bahkan sebelum publikasi resmi dilakukan, sejumlah masyarakat telah mencari informasi mengenai jadwal pertunjukan dan karya yang akan ditampilkan. Menurut Senda, hal tersebut menunjukkan bahwa seni tari masih memiliki tempat di tengah masyarakat dan terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan.
Lebih dari sekadar pergelaran tahunan, Kinarya Gatra menjadi bukti bahwa proses belajar seorang mahasiswa seni tidak hanya berlangsung di atas panggung. Di balik setiap gerakan tari yang ditampilkan, terdapat kerja kolektif, proses panjang, serta pengalaman berharga yang membentuk mereka menjadi seniman sekaligus pengelola pertunjukan di masa depan.
Melalui Kinarya Gatra, mahasiswa Program Studi Tari ISI Surakarta tidak hanya menampilkan karya terbaik mereka, tetapi juga menunjukkan bahwa sebuah pertunjukan seni lahir dari kolaborasi banyak tangan yang bekerja di balik gemerlap panggung. (lut)
Editor : Laila Zakiya