BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Kabar menggembirakan datang dari kawasan konservasi Gunung Merbabu.
Di tengah ancaman kerusakan habitat akibat kebakaran hutan yang sempat melanda beberapa tahun lalu, populasi Surili Jawa (Presbytis fredericae) justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menjanjikan.
Primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya kian langka itu kini masih dapat dijumpai di lereng Merbabu.
Hasil monitoring yang dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) sepanjang 2025 mencatat sedikitnya 37 individu Surili Jawa yang tersebar di sejumlah titik habitat penting.
Temuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa ekosistem hutan pegunungan Merbabu perlahan bangkit setelah mengalami tekanan akibat kebakaran hutan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, mengatakan keberadaan Surili Jawa merupakan indikator penting kesehatan ekosistem kawasan konservasi.
“Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6).
Surili Jawa sendiri merupakan salah satu primata endemik yang hanya hidup di Pulau Jawa. Spesies ini sangat bergantung pada keberadaan hutan pegunungan yang masih alami sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, dan berlindung dari ancaman predator.
Baca Juga: Bela Ruben Onsu, Betrand Peto Tegas Akui Tak Terima usai Lihat Video Viral Sarwendah
Salah satu kantong habitat penting Surili Jawa berada di wilayah Resor Selo. Pada area pengamatan seluas sekitar 96 hektare, petugas berhasil mendokumentasikan keberadaan 16 individu Surili Jawa. Bahkan, satu kelompok terbesar yang terpantau berjumlah 13 individu.
Yang lebih menggembirakan, tim monitoring juga menemukan individu dewasa, remaja, hingga anakan dalam kelompok tersebut. Kehadiran anakan menjadi bukti bahwa proses reproduksi masih berlangsung secara alami di habitat liar.
Temuan ini menandakan populasi Surili Jawa di Gunung Merbabu tidak hanya bertahan, tetapi juga masih memiliki peluang berkembang secara berkelanjutan.
Pemulihan vegetasi pakan menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberlangsungan satwa langka tersebut.
BTNGMb mencatat tumbuhan kemlandingan gunung yang sempat rusak akibat kebakaran hutan tahun 2019 kini mulai kembali mendominasi sejumlah area habitat.
Vegetasi tersebut merupakan sumber makanan penting bagi Surili Jawa. Selain itu, kawasan yang mulai menghijau kembali juga dimanfaatkan oleh satwa lain seperti Lutung Budeng untuk berlindung dan beraktivitas.
“Vegetasi ini tidak hanya menjadi sumber pakan utama Surili Jawa, tetapi juga dimanfaatkan Lutung Budeng sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Pemulihan vegetasi pascakebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan,” jelas Anggit.
Menurutnya, keberhasilan menjaga populasi Surili Jawa menjadi pengingat bahwa perlindungan habitat harus terus menjadi prioritas utama dalam upaya konservasi.
“Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang. Keberadaan Surili Jawa di Gunung Merbabu menjadi simbol bahwa alam yang dijaga dengan baik akan tetap mampu menopang kehidupan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” pungkasnya. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto