KARANGANYAR, SOLOBALAPAN.COM – Tradisi malam Satu Suro yang setiap tahun menarik ribuan peziarah dan pendaki ke Gunung Lawu mulai diantisipasi secara serius oleh pengelola. Perusahaan Umum Daerah (PUD) Aneka Usaha Karanganyar memperketat pengawasan di dua jalur pendakian utama, yakni melalui kawasan Candi Cetho di Kecamatan Jenawi dan jalur Cemoro Kandang di Kecamatan Tawangmangu.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjamin keselamatan pengunjung sekaligus mengantisipasi lonjakan aktivitas pendakian selama Bulan Suro yang diperkirakan meningkat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Direktur Utama PUD Aneka Usaha Karanganyar, Samidi, mengatakan momentum Suronan selalu menjadi salah satu periode tersibuk bagi kawasan pendakian Gunung Lawu.
Baca Juga: Adaptasi Gonjiam, Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Lakukan Syuting Langsung di Yeongwon Hospital
“Momentum Suro selalu menjadi periode dengan aktivitas pendakian tertinggi di Gunung Lawu. Karena itu kami memastikan seluruh sistem pelayanan dan pengawasan berjalan optimal selama 24 jam penuh,” ujarnya.
Libatkan Perhutani, BPBD, Relawan hingga Tim SAR
Untuk mendukung pengamanan, seluruh pos pendakian akan dioperasikan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur terkait. Pengawasan dilakukan secara terpadu bersama Perum Perhutani KPH Surakarta, BPBD Karanganyar, relawan Anak Gunung Lawu (AGL), LMDH Ceto, hingga tim SAR.
Menurut Samidi, kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat sistem pengawasan sekaligus mempercepat respons apabila terjadi kondisi darurat di jalur pendakian.
“Kami tidak bekerja sendiri. Pengamanan dilakukan secara terpadu bersama seluruh stakeholder yang selama ini menjadi mitra pengelolaan jalur pendakian Lawu. Tujuannya agar pengawasan lebih efektif dan respons terhadap kondisi darurat bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.
Pendataan dan SIMAKSI Jadi Fokus Utama
Pengawasan akan dilakukan secara berlapis sejak pendaki melakukan registrasi di basecamp. Petugas akan memeriksa dokumen administrasi, kelengkapan perlengkapan pendakian, hingga memantau pergerakan pendaki melalui sejumlah pos pengawasan di sepanjang jalur.
Kepatuhan terhadap registrasi resmi melalui Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) juga menjadi perhatian utama pengelola.
Menurut Samidi, data pendaki yang akurat sangat penting untuk mendukung proses monitoring maupun penanganan keadaan darurat apabila sewaktu-waktu diperlukan.
“Pendataan pendaki menjadi hal yang sangat penting. Dengan data yang akurat, proses monitoring maupun evakuasi apabila terjadi keadaan darurat bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” jelasnya.
Waspadai Cuaca Dingin Ekstrem Musim Kemarau
Selain lonjakan jumlah pendaki, pengelola juga mengantisipasi kondisi cuaca selama musim kemarau yang identik dengan fenomena bediding atau suhu dingin ekstrem di kawasan Gunung Lawu.
Pemantauan terhadap waktu turun pendaki akan ditingkatkan guna mengurangi risiko pengunjung terjebak cuaca buruk atau suhu rendah yang dapat membahayakan keselamatan.
Baca Juga: Duet dengan Slamet Rahardjo di Film CLBK, Aktris Senior Widyawati Hidupkan Kisah Cinta Usia Senja
Samidi mengingatkan seluruh pendaki dan peziarah agar selalu mematuhi arahan petugas serta tidak memaksakan diri apabila kondisi fisik tidak memungkinkan.
“Kami mengajak seluruh pendaki dan peziarah untuk tertib mengikuti aturan yang berlaku. Jangan memaksakan diri apabila kondisi fisik tidak memungkinkan. Keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak,” tegasnya.
Dengan pengamanan yang diperkuat dan koordinasi lintas instansi, pengelola berharap tradisi Suronan di Gunung Lawu tahun ini dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar bagi seluruh pendaki maupun peziarah yang datang. (rud/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto