SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Asap pembakaran sate yang mengepul tinggi di kawasan koridor budaya Ngarsopuro mendadak jadi magnet ratusan pasang mata, Kamis (28/5).
Suasana pusat Kota Solo itu mendadak diselimuti kehangatan luar biasa melalui sebuah festival kuliner rakyat bertajuk masak dan makan bersama dalam rangka merayakan Hari Raya Iduladha.
Uniknya, hidangan kurban berupa seribu tusuk sate, gulai, hingga kambing guling yang tersaji tidak hanya dikhususkan bagi umat muslim, melainkan dinikmati bersama oleh warga nonmuslim dalam harmoni toleransi yang kental.
Baca Juga: The Magician's Nephew: Film Asal-usul Dunia Narnia Siap Rilis Bioskop dan Netflix
Bakar Sate Unik Menggunakan Media Gedebok Pisang
Aksi sosial kultural ini diinisiasi oleh tokoh kreatif Solo, Mayor Haristanto, yang menakhodai Komunitas Republik AengAeng. Tak sekadar makan gratis, proses memasak pun diwarnai dengan atraksi unik penyiapan hidangan yang memikat perhatian para pelancong.
Panitia sengaja tidak menggunakan panggangan besi konvensional, melainkan memanfaatkan gedebok (batang) pisang sebagai media pemanggang alami untuk sate dan kambing guling.
“Hari ini kami menyiapkan 1.000 tusuk sate dan gulai untuk dibagikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Kami sengaja membakarnya menggunakan teknik gedebok pisang yang ditusukkan sate kemudian diguling secara tradisional,” ujar Mayor Haristanto di sela-sela kesibukannya.
Mayor menegaskan bahwa esensi utama dari perayaan kurban di ruang publik ini adalah meruntuhkan sekat-sekat perbedaan keyakinan melalui perantara kelezatan kuliner Nusantara.
"Kita ingin mengajak masyarakat untuk saling mempraktikkan toleransi dengan cara menikmati daging kurban untuk semua orang tanpa terkecuali. Yang paling penting, teknik kebersamaan ini bisa menjadi media silaturahmi yang mencairkan suasana," imbuhnya.
Jadi Ruang Kuliah Lapangan dan Edukasi Sosial Siswa SMK
Selain menjadi ajang kumpul warga, festival sate di Ngarsopuro ini juga berfungsi sebagai laboratorium sosial dan ruang praktik langsung bagi puluhan pelajar jurusan tata boga dari sejumlah sekolah swasta di Kota Solo.
Didampingi para relawan senior, para siswa tampak cekatan memotong daging, meracik bumbu gulai, hingga mengipasi bara arang.
Kolaborasi Lintas Elemen dalam Perayaan Iduladha di Ngarsopuro:
| Pihak yang Terlibat | Kontribusi Real dalam Acara | Output & Dampak Sosial |
| Republik AengAeng | Inisiator acara, penyedia bahan baku daging kurban, dan konsep acara. | Menghidupkan ruang publik Solo dengan pesan toleransi siber dan nyata. |
| Pelajar Tata Boga (SMK) | Eksekutor dapur, peracik bumbu, dan tim pembakar sate gedebok pisang. | Mengasah jiwa sosial (social awareness) sekaligus jam terbang keterampilan memasak. |
| KJNI Solo & Happy Land | Relawan pendukung pergerakan massa dan distribusi logistik makanan. | Memperkuat jejaring komunitas lokal dalam aksi kemanusiaan. |
| Masyarakat Lintas Iman | Berbaur bersama di sepanjang koridor menikmati gulai dan sate hangat. | Merawat status Kota Solo sebagai salah satu Kota Toleran terbaik di Indonesia. |
Nayla, salah satu warga nonmuslim yang ikut mengantre, mengaku sangat terkesan dengan atmosfer kebersamaan ini.
Baginya, mencicipi gulai kurban di pinggir jalan bersama warga lainnya memunculkan rasa kepemilikan bersama atas Kota Solo yang damai.
Aroma sedap bumbu kecap yang menyatu dengan tawa renyah warga lintas generasi di koridor Ngarsopuro siang itu menjadi bukti autentik: Di tangan orang-orang kreatif, daging kurban sukses menjelma menjadi jembatan pemersatu iman dan perawat kebinnekaan paling mujarab di Kota Bengawan. (alf/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com