SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Festival balon udara perdana di Kota Solo sukses bikin Alun-alun Utara penuh sesak sejak pagi.
Puluhan ribu warga rela datang demi menyaksikan 18 balon udara diterbangkan dalam rangka HUT ke-18 Bank Jateng Syariah. Sayangnya, yang paling siap terbang justru anginnya.
Acara yang digadang-gadang menjadi hiburan baru bagi warga Solo itu sempat berlangsung meriah. Namun cuaca dan terpaan angin kencang membuat penerbangan balon harus dihentikan lebih cepat demi alasan keselamatan.
Baca Juga: Alex Marquez Alami Kecelakaan Horor di Catalunya, Begini Klasemen Sementara MotoGP 2026
Warga yang sudah menunggu balon terbang tinggi akhirnya hanya bisa melihat panitia sibuk menghitung arah angin sambil berharap cuaca mendadak bersahabat.
Kepala Divisi Syariah Bank Jateng Syariah, Slamet Sulistiono, mengatakan festival ini merupakan hadiah untuk masyarakat Solo yang telah mendukung Bank Jateng Syariah selama 18 tahun terakhir.
“Pelaksanaan festival balon udara ini merupakan hadiah dari Bank Jateng untuk masyarakat Kota Solo yang telah membesarkan Bank Jateng Syariah di usia 18 tahun ini,” ujarnya, Minggu (17/5).
Persiapan acara disebut sudah dilakukan sejak dua bulan lalu, termasuk mengurus berbagai izin penerbangan dari Lanud hingga bandara. Semua izin berhasil dikantongi. Tinggal satu yang belum bisa diajak kompromi: cuaca.
“Untuk menerbangkan balon udara idealnya kecepatan angin maksimal 4 knot, tapi tadi informasi kecepatan angin berkisar 12 sampai 20 knot. Itu cukup berbahaya karena balon bisa cepat rusak. Maka tadi pukul 07.00 pagi kita hentikan untuk kebaikan semuanya,” jelas Slamet.
Baca Juga: Pengendara Motor Terpeleset ke Jurang 6 Meter di Boyolali, Dievakuasi Damkar Saat Subuh
Menurutnya, angin kencang dan suhu panas membuat tekanan di dalam balon meningkat sehingga berisiko menyebabkan balon pecah. Kondisi ini berbeda dengan pelaksanaan festival di Kudus yang disebut lebih bersahabat karena lokasi dikelilingi bangunan sehingga angin tidak terlalu liar.
“Waktu di Kudus balon bisa terbang sampai 30 meter karena lokasinya dikelilingi gedung-gedung. Harapannya nanti bisa mencari tempat yang tidak langsung terkena angin kencang,” tambahnya.
Meski penerbangan tidak berlangsung maksimal, antusiasme masyarakat justru di luar perkiraan. Lautan manusia memenuhi kawasan Alun-alun Solo sejak pagi hari. Banyak warga rela berdesakan demi mengabadikan momen balon udara pertama di Kota Bengawan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha, mengakui festival ini menjadi pengalaman pertama bagi Pemkot Solo. Evaluasi besar pun sudah disiapkan, mulai dari faktor keamanan hingga penentuan lokasi yang lebih ramah balon dan tidak terlalu ramah angin.
Baca Juga: Sinopsis Monster Pabrik Rambut, Horor Baru tentang Buruh Pabrik dan Teror Kerja Tanpa Henti
“Program ini sebagai pertama kali kita mengadakan festival balon udara. Nanti akan kita evaluasi dari sisi keamanan, kenyamanan, dan kesuksesan balon terbang,” ujarnya.
Selain cuaca, persoalan parkir dan akses masuk juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Apalagi festival berlangsung bersamaan dengan Car Free Day yang membuat kawasan Solo praktis penuh sejak pagi.
“Kalau tidak bersamaan dengan CFD sebenarnya kantong parkir cukup banyak. Tapi karena antusiasme masyarakat terlalu besar, pengaturan akses masuk dan petugas juga kewalahan,” katanya.
Meski demikian, festival ini dinilai tetap memberi dampak positif bagi sektor wisata dan UMKM di Solo. Hotel, kuliner, hingga kawasan wisata ikut terdongkrak karena banyak pengunjung luar kota datang khusus untuk melihat balon udara.
Baca Juga: Isu PP Pesangon hingga Skema Fully Funded ASN, Begini Update Kebijakan Pensiun Bagi Para PNS di 2026
Ke depan, Pemkot Solo berharap festival serupa bisa kembali digelar dengan lokasi yang lebih aman, area lebih luas, dan tentunya dengan satu syarat penting: angin tidak ikut jadi bintang utama acara. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto