BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah hiruk pikuk jual beli hewan kurban menjelang Eid al-Adha, ada satu sosok sepuh yang tetap setia menjalani profesi unik yang mulai jarang ditemui.
Dialah Darmo Semin atau yang akrab disapa Mbah Darmo, pria 74 tahun asal Cepogo yang puluhan tahun menjadi “tukang salon” sapi di Pasar Hewan Jelok.
Di sebuah gubuk kayu sederhana di sudut pasar, Mbah Darmo tampak telaten merapikan tanduk dan kuku sapi-sapi milik pedagang maupun calon pembeli hewan kurban.
Dengan peralatan sederhana berupa gergaji dan kikir, ia mempercantik tampilan sapi agar terlihat lebih gagah dan menarik.
Meski disebut salon sapi, perawatan yang dilakukan tentu berbeda dengan salon manusia. Kuku sapi dipotong agar sejajar sehingga posisi berdiri hewan terlihat lebih sempurna. Sementara tanduk dikikir supaya tampak rapi dan simetris.
Pekerjaan itu bukan tanpa risiko. Tak jarang sapi berbobot ratusan kilogram yang sedang ditanganinya mendadak memberontak. Namun tangan renta Mbah Darmo tetap cekatan dan sabar menghadapi setiap gerakan hewan tersebut.
“Saya sudah membuka jasa salon sapi sejak sekitar tahun 1980-an, masa di mana keterampilan merapikan fisik sapi sangat dibutuhkan,” ujar Mbah Darmo usai menerima pelanggan, Jumat (15/5).
Sebelum membuka jasa di Pasar Hewan Jelok, Mbah Darmo lebih dulu mangkal di Pasar Hewan Sunggingan. Setelah pasar dipindahkan, ia tetap melanjutkan profesinya karena lokasi baru justru lebih dekat dengan rumahnya di Candigatak, Cepogo.
Baca Juga: Dewa United Takluk di Manahan, Jan Olde Sebut Persis Solo Menang Karena Determinasi
Menariknya, di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan, tarif jasa salon sapi milik Mbah Darmo tak pernah berubah sejak lama. Untuk satu ekor sapi, ia hanya mematok biaya Rp50 ribu.
“Harganya saat hari biasa maupun Iduladha tetap sama, Rp50 ribu per ekor. Biasanya sapi dibawa ke sini untuk dipercantik,” katanya.
Menurut Mbah Darmo, tampilan kuku dan tanduk sapi sangat menentukan daya tarik hewan di mata pembeli. Bahkan, sapi dengan kuku rapi dan postur yang terlihat bagus bisa memiliki nilai jual lebih tinggi hingga ratusan ribu rupiah.
Baca Juga: Alexis Messidoro Sentil Keras Persis Solo: Klub Terpuruk Karena Manajemen Buruk
Namun di balik ketelatenannya menjaga profesi lawas itu, Mbah Darmo mengaku pelanggan kini semakin berkurang. Jika dulu dirinya bisa menangani hingga 20 ekor sapi dalam sehari saat musim kurban, kini jumlahnya menurun drastis.
“Mulai menurun sejak Iduladha tahun lalu. Saya juga tidak tahu penyebabnya apa. Mungkin sekarang sapinya sudah bagus-bagus,” tuturnya sambil tersenyum.
Meski pelanggan tak seramai dulu, Mbah Darmo tetap bertahan dengan profesi yang sudah menjadi bagian hidupnya selama lebih dari empat dekade.
Baca Juga: Luka Dumancic Jadi Pahlawan! Persis Solo Taklukkan Dewa United di Tengah Tekanan Degradasi
Di tengah modernisasi pasar hewan, keterampilan tradisional miliknya masih menjadi warna tersendiri di Pasar Hewan Jelok Boyolali. (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto