BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Bencana ekologis kembali menghantam kawasan Waduk Cengklik. Fenomena upwelling yang muncul usai hujan deras menyebabkan belasan ton ikan nila milik petani keramba jaring apung (KJA) mati mendadak sejak Jumat (15/5/2026) siang.
Kematian ikan terjadi secara bertahap dan bergiliran dari satu keramba ke keramba lain. Permukaan waduk dipenuhi bangkai ikan yang mengapung, memaksa para petani bergerak cepat membersihkan kolam demi mencegah pencemaran air semakin parah.
Baca Juga: Harga Honda Civic Ferio 1999 Bekas Mei 2026: Sedan Klasik Cuma Rp70 Jutaan yang Jadi Incaran Gen Z
Sejumlah petani terlihat berjibaku mengangkat ikan mati menggunakan jaring dan ember. Bau menyengat mulai tercium di beberapa titik waduk akibat bangkai ikan yang membusuk.
Salah satu petani KJA, Suhartono, mengatakan hingga kini para petani masih menghitung total kerugian akibat fenomena tersebut.
“Dampaknya terhadap berapa KJA dan total kematian ikannya berapa kuintal masih kami hitung,” ujarnya.
Upwelling Disebut Jadi Ancaman Tahunan
Menurut Suhartono, fenomena upwelling bukan lagi kejadian baru di Waduk Cengklik. Dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa serupa berulang kali terjadi dan selalu menimbulkan kerugian besar bagi petani ikan.
Ia menduga hujan lebat yang mengguyur kawasan waduk pada Kamis (14/5) petang menjadi pemicu utama munculnya upwelling kali ini.
Fenomena upwelling sendiri terjadi ketika lapisan air bawah waduk yang dingin, miskin oksigen, dan mengandung gas beracun naik ke permukaan akibat perubahan cuaca ekstrem.
Baca Juga: Cuma Rp27 Jutaan, Yamaha Lexi LX 155 Tawarkan Mesin VVA Aerox dengan Harga Paling Ramah di Kantong
Kondisi tersebut membuat kadar oksigen di permukaan air turun drastis sehingga ikan di keramba mengalami sesak dan mati mendadak dalam waktu singkat.
Petani Terancam Rugi Besar
Kematian massal ikan ini diperkirakan menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah. Sebab sebagian ikan nila yang mati disebut sudah mendekati masa panen.
Para petani kini berharap ada langkah serius dari pemerintah untuk mengantisipasi fenomena tahunan tersebut, termasuk sistem peringatan dini dan pengelolaan kualitas air waduk yang lebih maksimal.
Baca Juga: Alasan Gregoria Mariska Tunjung Tinggalkan Pelatnas PBSI, Resmi Pamit Setelah 12 Tahun
Jika tidak ditangani, fenomena upwelling dikhawatirkan terus menjadi ancaman bagi keberlangsungan usaha budidaya ikan di Waduk Cengklik yang selama ini menjadi salah satu sentra perikanan air tawar di Boyolali. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto