Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Tiga Percobaan Bunuh Diri Gegerkan Solo, Pemkot Diminta Serius Tangani Krisis Mental

Silvester Kurniawan • Kamis, 14 Mei 2026 | 21:20 WIB
Ilustrasi Bunuh Diri
Ilustrasi Bunuh Diri

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Rentetan percobaan bunuh diri yang terjadi di Jembatan Jurug dalam satu bulan terakhir menjadi alarm serius bagi kondisi kesehatan mental masyarakat di Kota Solo.

Pemerintah Kota Surakarta kini didesak tidak hanya hadir saat krisis terjadi, tetapi juga membangun sistem pendampingan psikologis yang benar-benar menjangkau warga hingga tingkat bawah.

Baca Juga: Angin Kencang Terjang Boyolali, Atap Polindes dan Rumah Warga Rusak Parah

Sedikitnya tiga percobaan bunuh diri berhasil digagalkan warga dan petugas di kawasan Jembatan Jurug dalam beberapa pekan terakhir.

Seluruh korban merupakan perempuan, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga.

Fenomena itu mendapat sorotan dari Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani yang menyebut meningkatnya kasus percobaan bunuh diri sebagai pertanda adanya tekanan sosial dan persoalan mental yang semakin kompleks di tengah masyarakat.

“Percobaan bunuh diri tidak hanya berkaitan dengan persoalan individu, tetapi juga menunjukkan adanya tekanan sosial dan tantangan hidup yang semakin kompleks,” ujar Astrid, Kamis (14/5/2026).

Tekanan Mental Anak Muda Jadi Sorotan

Astrid menilai generasi muda saat ini menghadapi tekanan besar, mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi keluarga, relasi sosial hingga ketidakpastian masa depan.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan penanganan setelah kejadian. Upaya pencegahan dan penguatan kesehatan mental harus menjadi kebijakan prioritas.

Baca Juga: Persib Bandung Bidik 3 Winger Mewah Rp22,16 Miliar! Ada Mariano Peralta hingga Eks Persis Solo Moussa Sidibe

Pemkot Surakarta mengklaim telah memperkuat koordinasi lintas sektor, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan hingga pemberdayaan anak muda melalui aktivitas kreatif dan produktif.

Salah satu program yang kini didorong adalah layanan psikologi dalam program Posyandu Plus yang tersedia hingga tingkat RW.

“Kami menghimbau masyarakat memanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan pemerintah, termasuk pelayanan psikologi di Posyandu Plus,” katanya.

Dalam layanan tersebut, warga dapat melakukan konsultasi psikologis, pemeriksaan tingkat kecemasan hingga deteksi dini stres agar gangguan mental bisa ditangani lebih cepat sebelum berkembang menjadi krisis serius.

Baca Juga: Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp5,6 T: Kenapa Lebih Besar dari Teroris?

Pinjol dan Tekanan Ekonomi Disebut Jadi Pemicu

Selain persoalan psikologis, Pemkot Solo juga menyoroti tekanan ekonomi sebagai salah satu faktor pemicu stres masyarakat.

Astrid menilai persoalan finansial, utang, hingga jeratan pinjaman online menjadi sumber tekanan baru yang banyak dialami warga, terutama kelompok usia produktif dan mahasiswa.

Karena itu, pemerintah berencana memperkuat literasi keuangan masyarakat agar warga tidak mudah terjebak persoalan ekonomi yang berdampak pada kondisi mental.

“Banyak persoalan stres dipicu masalah ekonomi, pendidikan, maupun tekanan sosial yang kerap disikapi dengan jalan pintas,” paparnya.

Pemkot juga akan menggandeng perguruan tinggi untuk memperkuat pendampingan psikologis bagi mahasiswa dan pelajar yang dinilai rentan mengalami tekanan akademik maupun persoalan biaya pendidikan.

Tambah Psikolog dan Aktivitas Positif

Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyebut Pemkot telah bekerja sama dengan RSUD Fatmawati Soekarno dan RSUD Bung Karno untuk menambah tenaga psikolog bagi masyarakat.

Baca Juga: Viral Status WA Diduga Milik Juri LCC Indri Wahyuni: Sindir Netizen hingga Berniat Open Endorse Biar Tambah Kaya

“Kita kerja sama dengan RSUD Fatmawati dan RSUD Bung Karno untuk menambah psikolog bagi masyarakat,” ujar Respati.

Pemkot juga berencana memperbanyak kegiatan olahraga, seni, dan industri kreatif agar anak muda memiliki ruang ekspresi yang sehat dan produktif.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai penguatan layanan kesehatan mental tidak cukup hanya berupa program simbolis atau layanan sesekali.

Pemerintah dinilai perlu memastikan akses psikolog benar-benar mudah dijangkau masyarakat, terutama kelompok rentan yang selama ini kesulitan mendapatkan pendampingan profesional. (ves/an)

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kota surakarta #Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto #kesehatan mental #percobaan bunuh diri #Wakil wali kota surakarta astrid widayani