SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Fenomena percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Jurug menjadi perhatian serius.
Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, tercatat sudah tiga orang berupaya mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan yang menghubungkan Surakarta dan Karanganyar tersebut.
Seluruh korban yang berhasil diselamatkan diketahui berjenis kelamin perempuan, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga. Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari persoalan asmara, tekanan psikologis, hingga dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kasus terbaru terjadi Selasa (12/5) sekitar pukul 13.10 WIB. Seorang mahasiswi asal Palembang nyaris melompat dari Jembatan Jurug.
Beruntung aksinya diketahui petugas proyek pengecatan jembatan yang kemudian melapor ke Pos SAR Perum Jasa Tirta (PJT) Jurug.
Anggota Tim SAR PJT Jurug, Rivaldo Ardi Pratama, mengatakan korban saat itu sudah berada di tepi jembatan dengan satu kaki melewati pagar pembatas.
“Saya langsung menuju lokasi setelah mendapat laporan dari petugas proyek. Ternyata benar, korban sudah dalam posisi mau melompat,” ujarnya.
Korban kemudian berhasil diamankan dan dibawa ke Pos SAR PJT Jurug untuk ditenangkan. Dari hasil komunikasi sementara, korban diduga nekat mengakhiri hidup karena persoalan asmara.
Baca Juga: Bertahan Sejak 1989, Kue Putu Pak Setu Jadi Buruan Pengunjung Ngarsopuro Solo
“Korban jalan kaki dari kos di wilayah Nusukan sambil menangis. Pengakuannya karena ditinggal menikah oleh kekasihnya,” terang pria yang akrab disapa Nando itu.
Nando mengaku prihatin karena dalam waktu singkat dirinya sudah tiga kali terlibat dalam penyelamatan percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Jurug. Menurutnya, kasus-kasus tersebut didominasi perempuan dengan latar belakang persoalan berbeda.
“Yang pertama pelajar dari Colomadu karena depresi dan persoalan pribadi. Kemudian kasus kedua terkait asmara, sedangkan yang terakhir di jembatan lama diduga karena masalah KDRT,” bebernya.
Ia berharap masyarakat tidak mengambil jalan pintas saat menghadapi persoalan hidup. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dinilai sangat penting untuk mencegah tindakan nekat.
“Kalau punya masalah berat lebih baik cerita ke keluarga atau orang yang dipercaya. Jangan langsung berpikir mengakhiri hidup,” pungkasnya.
Baca Juga: Persis Solo Dapat “Nyawa Tambahan” dari Eks Pemain, Milo: Kami Akan Berjuang Sampai Akhir
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional berat atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional, layanan kesehatan terdekat, atau hubungi orang yang dipercaya untuk mendapatkan pendampingan. (atn/an)