WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru SMP negeri di Kecamatan Wonogiri Kota memicu keprihatinan berbagai pihak.
Namun di balik kasus tersebut, muncul kesadaran baru bahwa anak-anak mulai berani memahami dan melaporkan tindakan kekerasan seksual yang mereka alami.
Ketua DPRD Wonogiri, Sriyono, menilai keberanian para korban untuk speak up menjadi tanda bahwa edukasi terkait kekerasan seksual mulai dipahami pelajar, termasuk siswa tingkat SMP.
“Dari kasus ini kita lihat anak-anak sudah melek terkait hal ini (kekerasan),” ujarnya baru-baru ini.
Menurut Sriyono, edukasi mengenai kekerasan seksual perlu terus diperkuat, terutama di lingkungan sekolah hingga wilayah pedesaan di Kabupaten Wonogiri.
Ia menilai siswa perlu dibekali pemahaman mengenai bentuk kekerasan seksual dan langkah yang harus dilakukan ketika menjadi korban maupun menyaksikan kejadian tersebut.
“Kalau yang diedukasi siswanya mungkin lebih bagus. Pelaku kan tidak sendiri, ada anak yang menjadi korban,” katanya.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga menyatakan dukungannya agar pemerintah daerah mengalokasikan anggaran khusus untuk edukasi kekerasan seksual melalui APBD.
Baca Juga: Pemuda Sragen Ditemukan Meninggal di Sungai Mungkung, Polisi Dalami Kronologi
Menurutnya, program tersebut dapat menggandeng pihak-pihak kompeten untuk memberikan sosialisasi dan pendampingan langsung ke sekolah-sekolah.
“Coba di perubahan dianggarkan. Menggandeng pihak-pihak yang kompeten di bidang itu lalu muter ke sekolah-sekolah nanti kita anggarkan. Mungkin solusi yang bagus,” paparnya.
Meski demikian, Sriyono menilai edukasi semacam itu harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak cukup hanya sekali. Sebab, setiap tahun akan ada pergantian siswa dan generasi baru di sekolah.
“Kan anak-anaknya berubah-ubah (naik kelas),” tambahnya.
Sebelumnya, seorang oknum guru olahraga berinisial J (55) di salah satu SMP negeri di Kecamatan Wonogiri Kota telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan terhadap sejumlah siswinya.
Baca Juga: Inspiratif! Langkah Nyata Atasi TPA Penuh: PKL Kembul Swarga Solo Mulai Olah Sampah Dagangan Sendiri
Kasus tersebut terungkap setelah sejumlah korban berani melapor. Polisi menyebut aksi cabul itu diduga telah berlangsung selama sekitar 13 tahun dengan sedikitnya delapan korban yang terdiri dari siswi aktif maupun alumni sekolah tersebut. (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto