Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Saat TPA Putri Cempo Overload, PKL Kembul Swarga Solo Pilih Olah Sampah Sendiri

Damianus Bram • Sabtu, 9 Mei 2026 | 20:45 WIB
Paguyuban PKL Kembul Swarga Banyuanyar Solo mulai mengolah sampah organik secara mandiri menjadi kompos. (DAMIANUS BRAM/SOLOBALAPAN.COM)
Paguyuban PKL Kembul Swarga Banyuanyar Solo mulai mengolah sampah organik secara mandiri menjadi kompos. (DAMIANUS BRAM/SOLOBALAPAN.COM)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Di tengah persoalan menumpuknya sampah dan kondisi TPA Putri Cempo yang kian overload, langkah berbeda justru muncul dari para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Banyuanyar, Solo. 

Tak ingin hanya menjadi penyumbang limbah kota, Paguyuban PKL Kembul Swarga RW XII Banyuanyar memilih bergerak mandiri dengan mengolah sampah dagangan mereka sendiri.

Baca Juga: Kabar Buruk dari Narnia: The Magician's Nephew, Syuting Terhambat Cedera Pemain hingga Rilis Mundur ke 2027

Langkah tersebut dimulai melalui pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos yang digelar Sabtu (9/5/2026).

Program ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab sosial para pedagang terhadap persoalan lingkungan yang semakin mendesak di Kota Solo.

Anggota Paguyuban Kembul Swarga sekaligus Ketua RW XII Banyuanyar, Achmad Shodiq, mengatakan kesadaran untuk mengelola sampah lahir dari semangat kemandirian yang sejak awal dibangun para pedagang.

Shelter PKL di Jalan Banyuanyar Selatan, menurutnya, dibangun secara swadaya oleh warga dan pedagang. Karena itu, urusan limbah pun mereka ingin selesaikan sendiri tanpa terus membebani tempat pembuangan akhir yang saat ini sudah kritis.

“Kami tidak ingin menjadi bagian dari masalah kota. Sampah yang berasal dari shelter diupayakan untuk diolah sendiri agar tidak perlu dibuang ke TPA yang kabarnya sudah penuh,” ujar Shodiq.

Mayoritas pedagang di Kembul Swarga menjual makanan olahan, sayuran, ikan segar, hingga daging ayam. Aktivitas tersebut menghasilkan timbulan sampah organik dalam jumlah cukup besar setiap hari.

Baca Juga: Daftar Merek Mobil Listrik Terlaris Maret 2026 di Indonesia, Jaecoo Salip BYD?

Alih-alih langsung dibuang, limbah tersebut kini mulai dipilah dan diolah menjadi kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali. Langkah sederhana itu dinilai mampu mengurangi volume sampah secara signifikan jika dilakukan secara konsisten.

Untuk mendukung program tersebut, Paguyuban Kembul Swarga menggandeng Catra, produsen bioaktivator lokal asal Solo.

Dalam pelatihan itu, para pedagang diberikan edukasi mengenai teknik dasar pengolahan sampah organik agar proses pembusukan berlangsung lebih cepat dan minim bau.

Fahriza dari Catra menjelaskan, penggunaan bioaktivator dapat mempercepat proses pengomposan dibanding membiarkan sampah membusuk secara alami.

Baca Juga: Sisi Gelap Kyai Ashari: Tak Hanya Rudapaksa, Santriwati yang menolak Juga Jadi Korban Pemukulan

“Didiamkan saja sebenarnya bisa jadi kompos, tapi kalau pakai bioaktivator prosesnya jauh lebih cepat. Sebelum masuk komposter, sampah sebaiknya dicacah dulu dan rutin dibalik,” jelas Fahriza.

Menariknya, pengolahan sampah organik disebut tidak membutuhkan alat mahal. Menurut Fahriza, masyarakat bisa memanfaatkan barang sederhana seperti ember bekas maupun pipa paralon sebagai media komposter.

“Disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan. Yang terpenting bukan alatnya, tetapi konsistensi untuk terus mengolahnya,” tambahnya.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kapasitas TPA Putri Cempo, langkah kecil para PKL ini justru menjadi contoh konkret bahwa solusi persoalan sampah tidak selalu harus menunggu program besar pemerintah.

Gerakan mandiri seperti yang dilakukan PKL Kembul Swarga dinilai bisa menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat kampung maupun sentra usaha kecil.

Baca Juga: 20 Klub Liga 2 Championship Musim Depan: Persipura Menetap, Semen Padang dan PSBS Biak Resmi Turun Kasta

Selain mengurangi beban TPA, pola ini juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap limbah rumah tangga dan sampah usaha.

Paguyuban berharap gerakan tersebut dapat menginspirasi shelter PKL lain di Kota Solo untuk mulai membangun kesadaran serupa demi menciptakan lingkungan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (dam/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Paguyuban PKL Kembul Swarga #pkl #kompos #tpa putri cempo