Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Harga Gabah Masih Tinggi, Petani Sukoharjo Bersyukur Lewat Tradisi Sedekah Bumi

Iwan Kawul • Jumat, 8 Mei 2026 | 12:45 WIB
Petani Polokarto Sukoharjo menggelar  tradisi sedekah bumi  menyambut panen. (IWAN KAWUL/SOLOBALAPAN.COM)
Petani Polokarto Sukoharjo menggelar tradisi sedekah bumi menyambut panen. (IWAN KAWUL/SOLOBALAPAN.COM)

SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Hamparan sawah yang mulai menguning di Dukuh Mlajon, Desa Kemasan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, menjadi saksi rasa syukur para petani menyambut panen musim tanam (MT) 2, Jumat (8/5/2026) pagi.

Para petani menggelar tradisi sedekah bumi di sebuah gardu tengah persawahan dengan suasana guyub dan penuh kebersamaan.

Berbagai makanan tradisional, tumpeng, hingga hasil bumi ditata di atas tikar sebelum disantap bersama usai doa dipanjatkan.

Baca Juga: Drawing Piala AFF U-19 2026: Indonesia Satu Grup dengan Vietnam

Dalam suasana sederhana namun hangat itu, para petani tampak duduk melingkar bersama perangkat desa, penyuluh pertanian, hingga unsur TNI.

Tradisi turun-temurun tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian yang dinilai cukup baik pada musim tanam kali ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Bagas Windaryatno, mengatakan sedekah bumi merupakan budaya leluhur yang masih terus dijaga para petani menjelang masa panen.

“Hari ini teman-teman petani di Mlajon, Desa Kemasan, Kecamatan Polokarto mengadakan acara sedekah bumi untuk panen MT 2. Beberapa waktu lalu kita berupaya dan berusaha di sawah untuk mengupayakan tanaman kita. Alhamdulillah sekarang mulai merasakan hasil dari apa yang kita kerjakan beberapa waktu lalu,” ujarnya saat menghadiri kegiatan tersebut.

Baca Juga: Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Pakar Astronomi Prediksi Jatuh Pada Tanggal ini

Menurut Bagas, tradisi sedekah bumi bukan sekadar seremonial, tetapi juga bentuk rasa syukur petani atas hasil pertanian yang mulai dipanen.

“Ini budaya leluhur kita yang selalu dilakukan nenek moyang menjelang panen dengan maksud sebagai wujud rasa syukur bahwa apa yang kita usahakan selama ini sudah menunjukkan hasil yang akan kita rasakan bersama. Petani Sukoharjo solid, sinergis, sukses,” katanya.

Selain hasil panen yang dinilai baik, petani juga diuntungkan dengan harga gabah yang masih tinggi di tingkat pedagang.

“Hasilnya bagus, harga di tingkat pedagang masih di atas Rp7.000 per kilogram. Jadi gabah langsung dibeli pedagang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kemasan, Agi Amarno, menjelaskan panen MT 2 kali ini dilakukan di hamparan sawah Kelompok Tani Mulyo, Mlajon, dengan luas sekitar 20 hektar.

Baca Juga: Pria Berbaju Putih Ditangkap Bareng Kyai Ashari di Wonogiri, Apa Peran Kuswandi di Kasus Pencabulan Ponpes Pati?

“Di Desa Kemasan ada tujuh kelompok tani. Hari ini panen di Kelompok Tani Mulyo, dan Sabtu besok Kelompok Tani Barokah juga mulai panen,” ujarnya.

Ia berharap hasil panen tahun ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani, terlebih harga gabah masih stabil dan menguntungkan. Tradisi sedekah bumi juga diharapkan tetap menjadi perekat kebersamaan warga desa di tengah aktivitas pertanian yang terus berkembang. (kwl/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#hamparan sawah menguning #kepala dinas pertanian dan peternakan Sukoharjo #Tradisi Jawa #sukoharjo #sedekah bumi