WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin kualitas asupan anak justru tercoreng setelah ditemukannya puntung rokok dalam menu makanan di KB Pesido.
Temuan ini memunculkan pertanyaan serius soal standar higienitas dan pengawasan distribusi makanan.
Puntung rokok tersebut terlihat berada di dalam kompartemen ompreng berisi oseng teri dan tempe, bahkan tampak tercampur dengan bumbu masakan. Menu tersebut diketahui dipasok oleh SPPG Jatiroto.
Baca Juga: Ogah Dul Jaelani Nikah di KUA, Ahmad Dhani Pilih Gelar Ngunduh Mantu Sendiri Tanpa Maia Estianty?
Respons Cepat, Tapi Bukti Hilang
Kepala SPPG Jatiroto, Richard Heidy Pratama, menyebut laporan diterima sekitar pukul 09.56 WIB dan langsung ditindaklanjuti dengan penarikan makanan serta penggantian menu.
“Kami langsung ambil tindakan, menu yang ada puntung rokoknya kami tarik,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Namun, langkah tersebut justru menimbulkan celah baru. Barang bukti puntung rokok disebut telah dibuang sebelum didokumentasikan secara menyeluruh.
“Belum sempat terfoto, sudah dibuang,” katanya.
Ketiadaan dokumentasi ini berpotensi menyulitkan proses verifikasi dan menimbulkan spekulasi di publik.
SPPG Klaim ‘Janggal’, Asal Usul Tak Jelas
Baca Juga: Kenaikan BBM Belum Berpengaruh Signifikan Terhadapa Penjualan Mobil Bekas di Solo
Pihak SPPG menilai keberadaan puntung rokok tersebut tidak lazim jika berasal dari proses memasak. Mereka beralasan bagian dalam puntung rokok masih kering meski bagian luar berminyak.
“Kalau dimasak, seharusnya bagian dalam menyerap minyak. Ini yang kami anggap janggal,” jelas Heidy.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum didukung bukti teknis yang kuat. Hingga kini, asal muasal puntung rokok tersebut masih belum dapat dipastikan.
Standar Sterilisasi Dipertanyakan
Baca Juga: Usaha Miras Diduga Tak Berizin di Solo, Satpol PP Akui Pengawasan Terkendala Izin Pusat
SPPG juga mengklaim bahwa area produksi telah menerapkan standar steril, termasuk larangan membawa barang dari luar. Namun temuan ini justru memunculkan kontradiksi antara prosedur yang diklaim dan kondisi di lapangan.
Jika benar sistem sudah steril, bagaimana benda asing seperti puntung rokok bisa masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada anak-anak?
Pengawasan Distribusi Jadi Sorotan
Selain proses produksi, distribusi makanan juga menjadi titik rawan. Kemungkinan kontaminasi saat pengemasan atau pengiriman tidak bisa diabaikan, terlebih jika pengawasan tidak dilakukan secara berlapis.
Pihak SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pada bahan baku dan sistem pengawasan.
“Kami akan mengetatkan pengawasan dan meningkatkan higienitas,” ujarnya.
Catatan Kritis: Keamanan Pangan Anak Tak Boleh Abai
Kasus ini menjadi alarm serius bagi program MBG, yang menyasar kelompok rentan seperti anak usia dini. Standar keamanan pangan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar respons setelah kejadian.
Hilangnya barang bukti, belum jelasnya sumber kontaminasi, serta klaim prosedur steril yang dipertanyakan menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan.
Tanpa transparansi dan evaluasi menyeluruh, kepercayaan publik terhadap program ini berisiko menurun—padahal menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak. (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto