SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Momentum Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan Museum Radya Pustaka untuk menghadirkan inovasi segar.
Bertepatan dengan 2 Mei, museum tertua di Indonesia itu resmi meluncurkan program “Dolanan Lempung”, sebuah kegiatan edukatif berbasis kerajinan gerabah yang terbuka untuk semua kalangan.
Kepala UPTD Museum Kota Surakarta, Bonita Rintyowati, mengatakan program ini akan menjadi agenda rutin setiap Sabtu mulai pukul 09.00 WIB. Pesertanya pun beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Baca Juga: Kapolres Sukoharjo Pimpin Apel di Kelurahan Dukuh, Soroti Inovasi Warga dan Keamanan Lingkungan
“Ini upaya kami agar museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang hidup dan menyenangkan,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Menurut Bonita, pemilihan tema gerabah bukan tanpa alasan. Museum Radya Pustaka memiliki koleksi gentong kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-8. Koleksi tersebut kini dijadikan pijakan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual melalui praktik langsung.
Selama ini, museum juga aktif menggelar berbagai kegiatan budaya seperti wilujengan wuku, bedah Serat Centhini, hingga atraksi tempa keris. Namun, tahun ini pendekatan diperluas dengan menghadirkan aktivitas kreatif yang lebih interaktif dan ramah bagi semua usia.
“Kegiatan gerabah ini tidak hanya melatih motorik anak, tetapi juga mengajarkan kesabaran serta mempererat interaksi antara orang tua dan anak,” jelasnya.
Menariknya, program ini digratiskan. Namun, jumlah peserta dibatasi hanya 25 orang setiap pertemuan. Antusiasme masyarakat pun terbilang tinggi, bahkan kuota pendaftaran sudah penuh hingga tiga bulan ke depan sejak dibuka.
“Banyak sekolah yang mendaftar dalam jumlah besar, bahkan mahasiswa juga ikut berpartisipasi,” tambahnya.
Meski kegiatan gratis, pengunjung tetap dikenakan tiket masuk museum sebesar Rp10 ribu untuk umum dan Rp7.500 bagi pelajar. Pendaftaran dibuka untuk semua sekolah, baik dari Solo maupun luar daerah.
Melalui inovasi ini, pihak museum berharap dapat meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperkuat citra sebagai ruang edukasi yang interaktif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami ingin museum semakin dikenal dan diminati. Koleksi yang ada tidak hanya dilihat, tetapi bisa ‘hidup’ melalui kegiatan kreatif seperti ini,” tegas Bonita. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto