Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ibu Dua Anak Tewas Kecelakaan Kereta Bekasi, Jenazah Disambut Tangis Keluarga di Manyaran Wonogiri

Iwan Adi Luhung • Rabu, 29 April 2026 | 06:38 WIB
Jenazah Ristuti Kustirahayu disambut tangis keluarga saat tiba di Manyaran. (IWAN ADI LUHUNG/SOLOBALAPAN.COM)
Jenazah Ristuti Kustirahayu disambut tangis keluarga saat tiba di Manyaran. (IWAN ADI LUHUNG/SOLOBALAPAN.COM)

 

WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Suasana duka menyelimuti Dusun Pucanganom, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Selasa (28/4/2026) sore.

Langit yang mulai redup seolah ikut merasakan kesedihan, saat sebuah ambulans perlahan memasuki halaman rumah duka sekitar pukul 16.15 WIB.

Di dalam ambulans tersebut, terbaring jenazah Ristuti Kustirahayu (37), seorang ibu dua anak yang selama ini merantau di Bekasi.

Baca Juga: Gudang SMPN 3 Tawangsari SukoharjoTerbakar, Kerugian Capai Rp125 Juta Diduga dari Pembakaran Sampah

Kepulangannya ke kampung halaman kali ini bukan untuk melepas rindu, melainkan dalam keadaan tak bernyawa.

Ristuti menjadi korban kecelakaan tragis yang melibatkan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di lintas Cikarang.

Tangis keluarga pun pecah saat jenazah tiba. Ayah korban, Sugeng Priyanto, tampak tak kuasa menahan duka. Dengan mata sembab, ia mengingat percakapan terakhirnya dengan sang putri.

“Terakhir telepon itu Minggu (26/4/2026). Ya seperti biasa, tanya kabar. Memang sering telepon,” ujarnya lirih.

Baca Juga: Pendaki Gunung Lawu Berselisih di Puncak, Pengelola Pastikan Sudah Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Tak ada firasat sebelumnya. Kabar duka justru datang tiba-tiba pada Selasa dini hari. Sugeng yang saat itu berada di Blora langsung bergegas menuju Wonogiri begitu menerima kabar tersebut.

Di mata keluarga, Ristuti dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia telah belasan tahun merantau dan bekerja sebagai admin di sebuah toko bangunan, bahkan sejak sebelum menikah.

Namun, kesibukan dan jarak membuat kepulangannya ke kampung halaman menjadi jarang. Menurut Sugeng, terakhir kali Ristuti pulang ke Wonogiri sekitar enam tahun lalu.

“Sudah lama sekali. Terakhir pulang itu ya sekitar enam tahun lalu,” kenangnya.

Baca Juga: Siapa Pemilik Taksi Listrik Green SM? Sosok Pham Nhat Vuong, Miliarder yang Punya Gurita Bisnis Vingroup di Indonesia

Sebenarnya, harapan sempat muncul ketika Ristuti berencana pulang saat Lebaran tahun ini. Namun, rencana tersebut batal setelah mertuanya di Purwokerto meninggal dunia.

Kini, kepulangan itu benar-benar terjadi. Tapi dalam suasana yang tak pernah diharapkan siapa pun.

Setibanya di rumah duka, jenazah langsung dimandikan dan disalatkan sebelum dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat. Warga sekitar pun turut membantu proses pemakaman, menunjukkan kuatnya solidaritas di lingkungan desa.

Kepala Dusun Pucanganom, Ngatimin, mengatakan kabar meninggalnya Ristuti diterima warga sekitar pukul 03.30 WIB.

Baca Juga: Sosok Nur Ainia Eka Rahmadhynna Karyawati KompasTV Jadi Korban Tewas dalam Tragedi KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur

“Saya dapat kabar dari keluarganya, dari pakdhe korban. Warga langsung membantu persiapan,” ujarnya.

Di tengah kesibukan persiapan pemakaman, suasana haru tak terelakkan. Sosok seorang ibu, anak, sekaligus bagian dari keluarga besar desa itu kini telah tiada. Yang tersisa hanyalah kenangan serta doa yang mengiringi kepergiannya. (al/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kecelakaan kereta bekasi #kereta argo bromo Anggrek #kecelakaan tragis #wonogiri #kecelakaan kereta api