BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM — Retakan tanah dan aliran sungai yang menyusut masih membekas dalam ingatan warga di sejumlah wilayah Boyolali.
Di Kemusu dan Juwangi, kemarau tahun lalu bukan sekadar musim, tetapi ujian panjang yang menguras persediaan air bersih.
Kini, bayang-bayang itu kembali datang lebih awal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan dimulai pada Mei, dengan puncak pada Juli hingga Agustus.
Yang membuat warga semakin waspada, sifat hujan tahun ini diperkirakan berada di bawah normal.
Bagi sebagian orang, ini berarti satu hal: kemarau yang lebih panjang dan lebih kering.
Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Suratno, menyebut durasi kemarau tahun ini bisa mencapai lima hingga tujuh bulan.
“Puncaknya diperkirakan Juli sampai Agustus, dengan intensitas hujan di bawah normal,” ujarnya.
Fenomena ini tak lepas dari pengaruh El Nino yang memanaskan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Dampaknya, awan hujan semakin sulit terbentuk, sementara panas terasa lebih menyengat dari biasanya.
Wilayah Rawan Mulai Bersiap
Belajar dari pengalaman tahun lalu, sejumlah wilayah kembali masuk peta rawan kekeringan. Mulai dari Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamudro, hingga beberapa titik di Klego, Andong, Tamansari, Cepogo, Ampel, Gladagsari, dan wilayah Kota Boyolali.
Baca Juga: Sinopsis Toy Story 5: Perjuangan Woody Melawan Invasi Teknologi Digital, Siap Tayang Juni 2026!
Di daerah-daerah ini, air bersih kerap menjadi barang langka saat kemarau mencapai puncaknya.
Sumur-sumur mulai mengering, aliran sungai menyusut, dan warga harus bergantung pada bantuan air bersih.
“Ini yang harus diantisipasi bersama, karena kebutuhan air pasti meningkat sementara ketersediaan menurun,” kata Suratno.
Ancaman Lain: Kebakaran Mengintai
Tak hanya kekeringan, kemarau panjang juga membawa ancaman lain—kebakaran hutan dan lahan.
Wilayah seperti Gladagsari, Banyudono, dan Sawit tercatat cukup rawan. Dalam banyak kasus, kebakaran justru dipicu oleh hal-hal sepele: puntung rokok yang dibuang sembarangan atau pembakaran sampah yang tak diawasi.
“Pastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” tegasnya.
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Di tengah ancaman kemarau panjang, warga diminta mulai beradaptasi sejak sekarang. Petani, misalnya, didorong untuk menyesuaikan pola tanam, memilih varietas yang lebih tahan kekeringan, dan mengoptimalkan sumber air yang ada.
Di sisi lain, masyarakat juga mulai diingatkan untuk lebih hemat dalam penggunaan air. Menyimpan cadangan air, memperbaiki saluran distribusi, hingga memanfaatkan sumur resapan menjadi langkah kecil yang bisa berdampak besar.
Baca Juga: Oxford United Degradasi, Ole Romeny Susul Jejak Elkan Baggott Merumput di Kasta Ketiga Liga Inggris?
Bagi pemerintah daerah, waktu sebelum kemarau mencapai puncak adalah masa krusial untuk bersiap. Mulai dari menyiapkan logistik, peralatan, hingga kemungkinan penetapan status siaga darurat jika kondisi memburuk.
Namun bagi warga, persiapan seringkali dimulai dari hal paling sederhana: memastikan air di rumah tetap tersedia untuk esok hari.
Kemarau mungkin datang setiap tahun. Tapi bagi mereka yang pernah merasakan sulitnya air, setiap musim kering selalu membawa cerita yang berbeda—dan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar hilang. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto