Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Terkendala Lahan, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Mandek—Perencanaan Dipertanyakan

Iwan Kawul • Selasa, 21 April 2026 | 15:58 WIB
Sebanyak 7 Koperasi Desa Merah Putih di Sukoharjo belum dibangun akibat kendala lahan. (IWAN KAWUL/SOLOBALAPAN.COM)
Sebanyak 7 Koperasi Desa Merah Putih di Sukoharjo belum dibangun akibat kendala lahan. (IWAN KAWUL/SOLOBALAPAN.COM)

 

SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Sukoharjo yang digadang-gadang menjadi penggerak ekonomi desa, ternyata belum sepenuhnya berjalan mulus.

Hingga kini, setidaknya tujuh koperasi belum dapat dibangun—mayoritas tersandung persoalan klasik: ketiadaan lahan.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Sukoharjo, Sumarno, mengakui bahwa enam koperasi masih tertahan karena belum tersedia lahan yang siap pakai, sementara satu lainnya terkendala faktor teknis.

Baca Juga: Tari Sesaji: Panjatkan Doa Lewat Media Gerak

“Ada tujuh yang belum dibangun. Enam terkendala lahan, satu masih tahap persiapan,” ujarnya.

Namun, kondisi ini justru memunculkan pertanyaan mendasar terkait kesiapan perencanaan program. Di tengah dorongan percepatan pembangunan ekonomi desa, persoalan lahan yang belum tuntas sejak awal menunjukkan adanya celah dalam tahap perencanaan.

Pasalnya, pembangunan fasilitas fisik seperti koperasi seharusnya didahului dengan kepastian lokasi—baik dari sisi legalitas maupun kesiapan teknis. Tanpa itu, program berisiko tersendat bahkan sebelum benar-benar berjalan.

Sumarno berdalih bahwa pemilihan lokasi tidak bisa sembarangan. Selain harus strategis, status kepemilikan lahan juga harus jelas agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

“Pembangunan tidak bisa dilakukan kalau lahannya belum siap dan tidak clear secara administrasi,” jelasnya.

Baca Juga: Tragedi SMPN 2 Sumberlawang Melebar: Dugaan Pembiaran Disorot, Sekolah Terancam Digugat

Pemerintah daerah saat ini masih mendorong pemerintah desa untuk segera menyediakan lahan, baik melalui tanah kas desa maupun alternatif lain. Namun, pendekatan ini dinilai reaktif—bukan solusi yang dirancang sejak awal.

Di sisi lain, pembangunan KDKMP di lokasi lain memang tetap berjalan. Sebagian bahkan telah selesai dan mulai beroperasi. Namun ketimpangan realisasi ini berpotensi menciptakan kesenjangan antar desa, terutama bagi wilayah yang belum memiliki akses terhadap fasilitas koperasi tersebut.

Dari data terbaru, operasional KDKMP di Sukoharjo saat ini masih didominasi sektor sembako dengan 20 gerai aktif. Disusul enam unit usaha simpan pinjam dan 32 unit usaha lainnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa diversifikasi usaha koperasi masih terbatas. Sektor-sektor strategis seperti apotek, klinik, pergudangan, hingga logistik distribusi belum berjalan karena keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan investasi yang lebih besar.

“Yang paling cepat berjalan memang sembako, karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Sementara sektor lain butuh kesiapan lebih,” terang Sumarno.

Baca Juga: Tribun Utara-Selatan Manahan Ditutup? Pasoepati Siapkan Strategi Khusus Kawal Laga Kandang Persis Solo

Situasi ini memperlihatkan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya siap menjawab kebutuhan ekonomi desa secara komprehensif.

Jika persoalan mendasar seperti lahan dan kesiapan usaha tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin program ini hanya akan berjalan parsial—tanpa dampak signifikan yang merata bagi seluruh desa di Sukoharjo.

Di tengah harapan besar terhadap kebangkitan ekonomi desa, publik kini menunggu lebih dari sekadar target. Yang dibutuhkan adalah perencanaan matang dan eksekusi yang konsisten, agar program tidak berhenti sebagai ambisi di atas kertas. (kwl/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#KDKMP Sukoharjo #penggerak ekonomi desa #KDKMP belum tersedia lahan #KDKMP masih tertahan #umkm