Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

KALASAM di Sragen, Saat Sampah Tak Lagi Jadi Masalah Tapi Peluang

Ahmad Khairudin • Senin, 20 April 2026 | 19:16 WIB
Inovasi KALASAM di Karangtengah Sragen mengubah sampah menjadi sumber ekonomi. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)
Inovasi KALASAM di Karangtengah Sragen mengubah sampah menjadi sumber ekonomi. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)

 

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah persoalan sampah yang tak kunjung usai di banyak daerah, warga Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sragen, justru memilih jalan berbeda: melawan masalah dengan inovasi.

Lewat program Karangtengah Layanan Jemput Sampah (KALASAM), warga tidak lagi memandang sampah sebagai beban, melainkan sebagai sumber nilai ekonomi. Sebuah pendekatan yang tak hanya menyentuh aspek kebersihan, tetapi juga kemandirian masyarakat.

Baca Juga: Viral Isu Kapal Tanker Pertamina Diawaki Full Kru India Terjebak di Selat Hormuz, Netizen Tuntut Penjelasan

Dengan jumlah penduduk mencapai 5.359 jiwa di wilayah seluas 37.600 meter persegi, potensi timbulan sampah di Karangtengah tergolong besar. Tanpa intervensi, persoalan klasik seperti membakar sampah atau membuang ke sungai akan terus berulang.

Namun, di sinilah KALASAM mengambil peran.

Mengubah Pola Pikir, Bukan Sekadar Angkut Sampah

Lurah Karangtengah, Sutarno, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya membuang, tapi juga memilah dan mengelola. Ada nilai ekonomi yang bisa kembali ke warga,” ujarnya.

Pendekatan ini menempatkan warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek program. Sampah dipilah sejak dari rumah, kemudian dijemput oleh petugas—memutus kebiasaan lama membuang sembarangan.

Sistem Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

KALASAM tidak berhenti di pengumpulan. Program ini dirancang menyeluruh, mulai dari pembentukan bank sampah di tingkat RT hingga pengolahan akhir.

Baca Juga: Benarkah Uya Kuya Punya 750 dapur MBG? Dituding Raup Rp4,5 Miliar Per Hari, Anggota Komisi IX DPR Resmi Polisikan Penuduh

Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik diubah menjadi produk daur ulang atau dikonversi menjadi saldo tabungan di bank sampah.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagaimana diamanatkan dalam regulasi nasional tentang pengelolaan sampah.

Menjawab Krisis Sampah dari Level Akar Rumput

Dengan produksi sampah nasional yang mencapai ratusan ribu ton per hari, ketergantungan pada TPA jelas bukan solusi jangka panjang.

KALASAM menunjukkan bahwa solusi justru bisa lahir dari tingkat paling bawah—RT dan RW—melalui kesadaran kolektif dan sistem yang terorganisir.

“Jika sampah selesai di tingkat lingkungan, beban TPA akan berkurang drastis,” tambah Sutarno.

Baca Juga: Siap-Siap Jadi ASN! 5 Jurusan Kuliah Ini Selalu Jadi Langganan Kuota Terbanyak di Seleksi CPNS

Dari Program Lokal Menuju Model Nasional

Keberhasilan KALASAM mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sragen. Program ini dinilai bukan sekadar gerakan kebersihan, melainkan model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular yang potensial direplikasi.

Kini, 9 RW dan 32 RT di Karangtengah tengah bergerak menuju kawasan hijau—bukan hanya bersih dari sampah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, Karangtengah memberi pesan sederhana namun kuat: sampah bukan masalah, jika dikelola dengan cara yang benar. (din/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kalasam #memilih dan mengelola sampah #layanan jemput sampah #sragen #sampah