SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah persoalan sampah yang tak kunjung usai di banyak daerah, warga Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sragen, justru memilih jalan berbeda: melawan masalah dengan inovasi.
Lewat program Karangtengah Layanan Jemput Sampah (KALASAM), warga tidak lagi memandang sampah sebagai beban, melainkan sebagai sumber nilai ekonomi. Sebuah pendekatan yang tak hanya menyentuh aspek kebersihan, tetapi juga kemandirian masyarakat.
Dengan jumlah penduduk mencapai 5.359 jiwa di wilayah seluas 37.600 meter persegi, potensi timbulan sampah di Karangtengah tergolong besar. Tanpa intervensi, persoalan klasik seperti membakar sampah atau membuang ke sungai akan terus berulang.
Namun, di sinilah KALASAM mengambil peran.
Mengubah Pola Pikir, Bukan Sekadar Angkut Sampah
Lurah Karangtengah, Sutarno, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya membuang, tapi juga memilah dan mengelola. Ada nilai ekonomi yang bisa kembali ke warga,” ujarnya.
Pendekatan ini menempatkan warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek program. Sampah dipilah sejak dari rumah, kemudian dijemput oleh petugas—memutus kebiasaan lama membuang sembarangan.
Sistem Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
KALASAM tidak berhenti di pengumpulan. Program ini dirancang menyeluruh, mulai dari pembentukan bank sampah di tingkat RT hingga pengolahan akhir.
Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik diubah menjadi produk daur ulang atau dikonversi menjadi saldo tabungan di bank sampah.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagaimana diamanatkan dalam regulasi nasional tentang pengelolaan sampah.
Menjawab Krisis Sampah dari Level Akar Rumput
Dengan produksi sampah nasional yang mencapai ratusan ribu ton per hari, ketergantungan pada TPA jelas bukan solusi jangka panjang.
KALASAM menunjukkan bahwa solusi justru bisa lahir dari tingkat paling bawah—RT dan RW—melalui kesadaran kolektif dan sistem yang terorganisir.
“Jika sampah selesai di tingkat lingkungan, beban TPA akan berkurang drastis,” tambah Sutarno.
Baca Juga: Siap-Siap Jadi ASN! 5 Jurusan Kuliah Ini Selalu Jadi Langganan Kuota Terbanyak di Seleksi CPNS
Dari Program Lokal Menuju Model Nasional
Keberhasilan KALASAM mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sragen. Program ini dinilai bukan sekadar gerakan kebersihan, melainkan model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular yang potensial direplikasi.
Kini, 9 RW dan 32 RT di Karangtengah tengah bergerak menuju kawasan hijau—bukan hanya bersih dari sampah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, Karangtengah memberi pesan sederhana namun kuat: sampah bukan masalah, jika dikelola dengan cara yang benar. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto