SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Aksi pencurian rel kereta api yang kerap dijuluki “rayap besi” kembali terjadi di Kabupaten Sukoharjo.
Ironisnya, aksi tersebut berlangsung terang-terangan di siang hari, memunculkan pertanyaan serius soal pengawasan jalur vital perkeretaapian.
Dua pelaku kepergok warga saat memotong rel di jalur KM 117+0/1, Dukuh Gesingan RT 01/09, Desa Luwang, Kecamatan Gatak, Sabtu (18/4) sekitar pukul 11.20 WIB. Keduanya langsung diamankan warga sebelum sempat melarikan diri.
Baca Juga: Sepeda Motor Mio Terbakar di Depan Kantor Bupati Sukoharjo, Diduga Akibat Korsleting
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo melalui Kapolsek Gatak AKP Hadi Sumaryono membenarkan pengungkapan kasus pencurian dengan pemberatan tersebut. Namun, fakta bahwa aksi dilakukan secara terbuka di siang hari menjadi sorotan tersendiri.
“Pelaku diamankan setelah kepergok warga saat memotong rel menggunakan alat las dan mengangkutnya ke kendaraan pick up,” ujar Hadi, Minggu (19/4).
Peristiwa ini bermula dari kecurigaan seorang warga, Hardiyanto, yang melihat aktivitas mencurigakan di jalur rel milik PT KAI. Tanpa pengawasan berarti, pelaku leluasa memotong rel dan memindahkannya ke mobil Suzuki Super Carry.
Respons cepat warga menjadi kunci terungkapnya kasus ini. Bersama petugas perkeretaapian, mereka berhasil mengamankan kedua pelaku di lokasi. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa peran masyarakat masih menjadi garda terdepan dalam menjaga aset vital negara.
Baca Juga: Pesan Terakhir yang Kini Jadi Kenangan: Kepulangan Korban Helikopter Disambut Duka di Klaten
Dua pelaku, Siswanto (33) dan Sriyono (33), warga Kecamatan Nogosari, Boyolali, kini diamankan di Polsek Gatak. Dari tangan keduanya, polisi menyita satu unit mobil pick up, sepuluh batang rel dengan berbagai ukuran, satu sepeda motor, serta peralatan pemotong lengkap.
Akibat pencurian ini, PT KAI mengalami kerugian sekitar Rp 24 juta. Namun kerugian sesungguhnya berpotensi jauh lebih besar jika aksi tersebut tidak segera dihentikan, mengingat rel merupakan infrastruktur krusial bagi keselamatan perjalanan kereta api.
Polisi mengaku masih mendalami kemungkinan adanya jaringan di balik aksi ini. Sebab, pencurian rel bukanlah kasus baru dan kerap terjadi secara berulang di berbagai daerah.
“Masih kami dalami kemungkinan adanya pelaku lain atau jaringan,” tambah Hadi.
Kasus ini kembali membuka celah lama: lemahnya pengawasan terhadap aset vital negara. Di tengah risiko besar terhadap keselamatan publik, sistem pengamanan jalur rel dinilai masih belum optimal dan cenderung bergantung pada partisipasi warga.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan aktivitas mencurigakan. Namun, tanpa pembenahan sistem pengawasan yang lebih serius dan terintegrasi, aksi “rayap besi” dikhawatirkan akan terus berulang. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto