SOLOBALAPAN.COM – Malam itu, Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, diselimuti keheningan yang berbeda.
Bukan sekadar sunyi, tetapi duka yang terasa begitu dalam. Ratusan warga berkumpul, mengiringi kepulangan terakhir Joko Catur Prasetyo Sulistyo Wibowo (45), yang akrab disapa Bowo.
Jenazah almarhum tiba di kampung halamannya pada Sabtu (18/4/2026), setelah menjadi salah satu korban dalam kecelakaan helikopter Airbus H130 bernomor registrasi PK-CFX di wilayah Nanga Taman, Sekadau, Kalimantan Barat.
Tangis keluarga pecah saat ambulans perlahan memasuki kawasan Perumahan Glodogan—tempat yang selama ini hanya ia kunjungi setahun sekali, setiap Lebaran. Kini, ia pulang untuk selamanya.
Jenazah disalatkan di rumah duka dan masjid setempat, sebelum akhirnya dimakamkan di Makam Baru Glodogan, tak jauh dari rumah sang ibu yang baru saja pulih dari sakit.
Di mata warga, Bowo bukan sekadar tetangga. Ia adalah sosok yang hangat, rendah hati, dan selalu hadir tanpa diminta.
“Beliau orangnya sangat bijak, tidak membeda-bedakan. Setiap pulang selalu membantu,” kenang Slamet Riyadi, dengan suara bergetar.
Baca Juga: Menikmati Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dari Ketinggian, Hidden View Cantik di Desa Sendang
Di balik kenangan itu, tersimpan satu hal yang kini terasa begitu menyesakkan: pesan terakhir.
Saat pulang Lebaran lalu, Bowo sempat menitipkan ibunya kepada Slamet—sesuatu yang tak biasa ia lakukan sebelumnya.
“Beliau bilang, titip ibu dan tolong dijaga. Biasanya tidak pernah seperti itu. Ternyata itu pesan terakhir,” tuturnya.
Kecelakaan tragis itu terjadi saat almarhum tengah menjalankan tugas. Helikopter yang ditumpanginya lepas landas pagi hari, sebelum akhirnya hilang kontak di tengah perjalanan.
Proses evakuasi dan identifikasi korban berlangsung dramatis, mengingat lokasi jatuhnya berada di kawasan hutan.
Namun bagi keluarga, fakta-fakta itu kini terasa jauh. Yang tersisa hanyalah kehilangan.
Bowo meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih membutuhkan sosok ayah. Anak sulungnya baru duduk di bangku SMP, sementara si bungsu masih di taman kanak-kanak.
Di mata keluarga, ia adalah tulang punggung sekaligus pelindung.
“Dia tipe pemimpin yang berani tanggung jawab. Kalau ada masalah, dia yang maju dulu,” ujar kakaknya, Sulistianto.
Kariernya di dunia perkebunan telah ia jalani sejak 2006. Terakhir, ia menjabat sebagai Plantation Head di Kalimantan Barat—sebuah posisi strategis yang mencerminkan kepercayaan besar terhadap dedikasinya.
Ironisnya, perjalanan dinas yang dijalani itu adalah rangkaian akhir sebelum ia dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi.
“Harusnya itu lokasi terakhir sebelum pindah tugas. Kami tidak menyangka ini jadi perjalanan terakhirnya,” tambah sang kakak.
Kini, langkahnya telah terhenti. Namun jejak kebaikan dan keteladanannya tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, satu per satu pelayat meninggalkan makam. Tanah telah menutup liang, tetapi duka belum benar-benar reda.
Di tempat itu, sekitar 500 meter dari rumahnya, Bowo akhirnya beristirahat.
Dan di hati mereka yang ditinggalkan, ia akan selalu pulang—dalam kenangan yang tak akan pernah benar-benar pergi. (ren/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com