WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM – Sebanyak 50 unit kendaraan operasional untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) resmi didistribusikan di Wonogiri. Namun di balik distribusi tersebut, muncul satu catatan penting: puluhan mobil itu belum bisa dimanfaatkan.
Kendaraan jenis pikap merek Mahindra seri Scorpio yang disuplai oleh PT Agrinas Pangan Nusantara itu untuk sementara hanya diparkir di gedung koperasi masing-masing. Alasannya sederhana, namun krusial—operasional KDKMP belum berjalan.
Distribusi dilakukan di Makodim 0728/Wonogiri sejak Jumat hingga Sabtu (18/4). Komandan Kodim 0728/Wonogiri, Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihuan, menyebutkan 50 unit tersebut merupakan tahap awal yang dibagikan ke 50 koperasi di 25 kecamatan.
“Ini dibagikan ke 50 KDKMP di 25 kecamatan,” ujarnya.
Selain kendaraan, bantuan juga mencakup 100 unit pendingin ruangan (AC) yang direncanakan mulai dipasang dalam waktu dekat. Namun, kembali muncul pertanyaan yang sama: sejauh mana kesiapan infrastruktur dan sistem pendukung koperasi itu sendiri?
Dandim menegaskan bahwa kendaraan belum boleh digunakan sebelum koperasi benar-benar beroperasi.
“Kalau digunakan itu buat apa? Kalau ada apa-apa ke kendaraannya bagaimana?” katanya.
Baca Juga: 150 Korban Banjir Urus Surat Kehilangan, Polres Sukoharjo Jemput Bola ke Lokasi
Pernyataan ini menegaskan adanya jeda antara distribusi aset dengan kesiapan operasional. Dalam konteks kebijakan, kondisi ini kerap menjadi sorotan karena berpotensi menimbulkan inefisiensi—aset sudah tersedia, tetapi belum memberikan manfaat langsung.
Untuk sementara, seluruh kendaraan disimpan di gedung KDKMP dengan pengawasan dari jajaran Koramil setempat. Pengamanan menjadi penting, mengingat belum adanya kejelasan terkait mekanisme penggunaan, termasuk aspek perawatan dan garansi.
“Kami sarankan tidak usah digunakan dulu. Diparkir saja di koperasi,” tambahnya.
Di sisi lain, progres pembangunan KDKMP di Wonogiri juga belum sepenuhnya rampung. Dari total 281 koperasi yang direncanakan, baru 154 yang telah terbangun. Sementara 13 desa atau kelurahan masih terkendala, terutama pada ketersediaan lahan.
Baca Juga: Coffee Shop di Solo, DPRD Soroti Pajak hingga Parkir: Pengawasan Selama Ini Dianggap Belum Optimal
“Kendala di lahan, khususnya di wilayah perkotaan yang lahannya terbatas,” jelas Ivan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa implementasi program masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam aspek perencanaan tata ruang. Bahkan, wacana desain alternatif untuk lahan terbatas sempat muncul, namun hingga kini belum ada kejelasan lanjutan.
Di tingkat nasional, peresmian KDKMP direncanakan akan dilakukan secara serentak oleh Prabowo Subianto. Namun, hingga saat ini jadwal resmi masih menunggu kepastian.
Situasi ini memperlihatkan dinamika yang kerap terjadi dalam program berskala besar: distribusi fisik dapat berjalan cepat, tetapi kesiapan sistem dan operasional tidak selalu seiring.
Ke depan, tantangan utama bukan sekadar menyalurkan bantuan, melainkan memastikan bahwa seluruh komponen—dari infrastruktur, manajemen, hingga regulasi—benar-benar siap sehingga aset yang sudah tersedia tidak berhenti sebagai simbol, melainkan bisa segera memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: Tribun Dibatasi, Persis Solo Tetap Dapat Dukungan, Pasoepati Siapkan Strategi Khusus
Daftar 50 KDKMP Penerima Mobil Pick Up Tahap Pertama di Wonogiri
(berdasarkan data Kodim 0728/Wonogiri)
Giriwono (Wonogiri), Purwosari (Wonogiri), Singodutan & Pare (Selogiri), Gedong & Kerjo Lor (Ngadirojo), Kedungrejo & Bulurejo (Nguntoronadi), Sendangrejo & Saradan (Baturetno), Sumberejo & Sumberagung (Batuwarno), Dlepih & Sukoharjo (Tirtomoyo), Bumiharjo & Selomarto (Giriwoyo), Pucanganom & Tlogoharjo (Giritontro), Pulutan Kulon & Sumberejo (Wuryantoro), Pagutan & Kepuhsari (Manyaran), Puloharjo & Tegalharjo (Eromoko), Lebak & Pracimantoro (Pracimantoro), Gunungsari & Watangsono (Jatisrono), Mangunharjo & Jeporo (Jatipurno), Duren & Jatiroto (Jatiroto), Tremes & Mojoreno (Sidoharjo), Selorejo & Doho (Girimarto), Tegalrejo & Purwantoro (Purwantoro), Gesing & Gambiranom (Kismantoro), Krandegan & Ngaglik (Bulukerto), Tunggur & Made (Slogohimo), Ngambarsari & Temboro (Karangtengah), Puhpelem (Puhpelem), Paranggupito & Johunut (Paranggupito), serta Platarejo (Giriwoyo). (al/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto