SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Ancaman longsor di Desa Kalikobok kian nyata. Hujan deras yang mengguyur wilayah ini selama sepekan terakhir memicu pergerakan tanah ekstrem hingga ambles sedalam 2 meter, memaksa warga membongkar rumah mereka sendiri demi menyelamatkan nyawa.
Dua kepala keluarga di Dukuh Banyuurip menjadi korban paling terdampak. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal kini berubah menjadi zona rawan yang tak lagi layak huni.
Peristiwa ini bermula sejak Minggu (12/4), saat retakan tanah mulai muncul usai hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut. Namun, kondisi memburuk cepat hanya dalam hitungan hari.
Baca Juga: Menunggu Bursa Transfer MotoGP 2027: Akankah Skenario Rossi Vs Lorenzo Bakal Kembali Terulang?
Toni Arianto mengungkapkan, retakan awal yang semula kecil berubah drastis setelah hujan kembali turun deras keesokan harinya.
“Minggu sudah ada retak. Senin hujan deras, retakannya makin lebar, sekitar satu jengkal,” ujarnya.
Puncaknya terjadi pada Rabu (15/4). Tanah di bagian belakang rumah—dekat kamar mandi—ambles hingga sekitar 2 meter. Fondasi bangunan tak mampu menahan pergeseran tanah yang terus bergerak.
Rumah milik Jumirin (54) dan Firiyanto (30) pun dinyatakan tidak aman. Alih-alih menunggu roboh, warga memilih langkah ekstrem: membongkar bangunan secara mandiri.
Sebanyak enam jiwa kini harus mengungsi ke rumah kerabat di lokasi yang lebih tinggi. Mereka meninggalkan tempat tinggal tanpa kepastian kapan bisa kembali.
“Sementara mengungsi ke tempat keluarga di atas, karena tanah di sini masih terus bergerak,” imbuh Toni.
Di sisi lain, respons pemerintah desa dan tim gabungan dinilai cukup cepat. Sekretaris Desa Kalikobok, Agus Salim, menyebut kaji cepat langsung dilakukan begitu laporan diterima.
Pada Jumat (17/4), pembongkaran rumah dilakukan melalui kerja bakti yang melibatkan TNI, Polri, relawan, dan warga sekitar.
Namun, di balik respons tersebut, ancaman belum sepenuhnya mereda. Pergerakan tanah masih terpantau aktif, sementara intensitas hujan yang fluktuatif memperbesar risiko longsor susulan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, Triyono Putro, menyebut kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp50 juta.
Meski tidak ada korban jiwa, situasi ini menyoroti kerentanan kawasan permukiman di daerah rawan longsor—terutama saat mitigasi jangka panjang belum sepenuhnya optimal.
Baca Juga: Nyaris Rp1 Miliar Uang Korupsi Alkes Karanganyar Kembali ke Negara, Kejari Kejar Sisa Kewajiban
“Potensi longsor susulan masih ada. Tim masih disiagakan untuk pemantauan dan distribusi logistik,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana tidak selalu datang tiba-tiba, tetapi kerap diawali tanda-tanda yang luput diantisipasi. Tanpa langkah mitigasi yang lebih serius, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus berulang—dengan dampak yang lebih besar. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto