SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, selembar kain tradisional dari Pedan, Klaten, justru menemukan jalannya menembus panggung dunia.
Melalui sentuhan inovasi dan strategi pemasaran digital yang adaptif, Lurik Prasojo menjelma menjadi simbol bagaimana tradisi dapat hidup, bahkan bersinar, di era global.
Adalah Maharani Setyawan, sosok di balik transformasi tersebut. Ditemui di The Sunan Hotel, ia bercerita tentang perjalanan panjang usaha tenun yang telah berdiri sejak 1950.
Baca Juga: Digerebek Polisi! Peredaran Psikotropika di Boyolali Terbongkar, Ratusan Butir Disita
Pada masa awal, lurik belum menjadi primadona. Produksi lebih banyak difokuskan pada kebutuhan fungsional seperti selimut dan serbet, sementara minat terhadap kain lurik sendiri masih sangat terbatas.
“Dulu permintaan lurik hanya sekitar dua persen, lebih banyak ke selimut,” ungkapnya.
Namun waktu membawa perubahan. Dari pemasaran sederhana berbasis gethok tular, Lurik Prasojo perlahan membangun reputasi. Titik balik terjadi saat pandemi melanda—ketika keterbatasan justru memaksa lahirnya adaptasi.
Digitalisasi menjadi jawaban.
“Setelah pandemi, kami mulai serius masuk ke pemasaran digital. Dari situ justru penjualan meningkat signifikan, terutama dari konten dan live di media sosial,” jelas Maharani.
Kini, kanal digital menjadi tulang punggung penjualan, meski geliat toko offline juga kembali hidup. Perpaduan keduanya menciptakan keseimbangan baru dalam strategi bisnis.
Tak berhenti pada pemasaran, inovasi juga dilakukan pada produk. Maharani membawa lurik keluar dari pakem tradisional menuju ranah fesyen kontemporer—membuatnya lebih relevan dan mudah diterima generasi masa kini.
“Ketika lurik masuk ke dunia fashion, penerimaannya jauh lebih luas. Ini cara kami mengenalkan wastra Indonesia ke lebih banyak orang,” ujarnya.
Langkah tersebut membuka jalan menuju panggung internasional. Sejak bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia pada 2019, jejaring Lurik Prasojo semakin meluas. Kesempatan pun datang melalui program Indonesia Global Halal Fashion yang difasilitasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.
Dengan inovasi penggunaan benang bersertifikat halal berbahan serat alami, karya Lurik Prasojo berhasil lolos kurasi dan tampil di panggung fesyen dunia seperti Milan dan Paris.
“Dari program itu, kami bisa membawa lurik ke level internasional. Itu pengalaman yang luar biasa,” tuturnya.
Dari sisi harga, Lurik Prasojo menjangkau berbagai segmen. Kain lurik reguler dipasarkan mulai Rp40.000 per meter, sementara tenun otentik yang eksklusif dapat mencapai Rp2,5 juta per meter. Untuk busana jadi, nilainya bahkan bisa menembus Rp7,5 juta, tergantung desain dan material.
Di tengah tekanan ekonomi yang cenderung melemah, strategi pun kembali disesuaikan. Maharani kini membidik pasar seragam instansi dan perusahaan yang dinilai lebih stabil karena memiliki alokasi anggaran tetap.
“Segmen seragam cukup membantu karena sudah ada budgeting, jadi lebih stabil di tengah daya beli yang menurun,” jelasnya.
Meski telah menembus pasar global, tantangan terbesar justru datang dari dalam negeri: bagaimana membuat generasi muda tidak sekadar bangga, tetapi juga mau mengenakan lurik dalam keseharian.
Ia berharap ada dorongan lebih luas, termasuk dari pemerintah, untuk membiasakan penggunaan wastra tradisional seperti lurik—sebagaimana batik yang telah lebih dahulu mengakar.
“Harapannya, lurik bisa dipakai rutin, misalnya seminggu sekali. Supaya tidak hanya jadi simbol, tapi benar-benar hidup di masyarakat,” pungkasnya.
Di tangan generasi baru, lurik tak lagi sekadar warisan. Ia adalah identitas yang terus ditenun—menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto