Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Waspada El-Nino 2026, BPBD Boyolali Petakan Wilayah Rawan Karhutla di Lereng Merbabu

Abdul Khofid Firmanda Putra • Kamis, 16 April 2026 | 14:05 WIB
ILUSTRASI KARHUTLA
ILUSTRASI KARHUTLA

 

BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Kabupaten Boyolali.

Menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi dipengaruhi fenomena El-Nino, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bergerak cepat memetakan wilayah rawan, berkaca pada kejadian besar tahun 2023.

Baca Juga: Pioneer of Personal Branding: Rahasia Minke Membangun “Pengaruh” Tanpa Algoritma di Tahun 1900-an

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali, Suratno, menegaskan bahwa langkah antisipasi kini difokuskan pada potensi kebakaran hutan dan lahan yang meningkat saat cuaca ekstrem melanda.

“Saat ini kami mengantisipasi potensi terjadi bencana kebakaran lahan dan hutan. Kami petakan lagi wilayah rawan berdasarkan data 2023,” ujarnya, Kamis (16/4).

Belajar dari kejadian sebelumnya, kawasan Gunung Merbabu menjadi titik paling rawan. Pada musim kemarau 2023, kebakaran terpusat di wilayah ini dengan posko induk di Mongkrong.

Data BPBD mencatat sedikitnya 14 titik indikasi kebakaran, terdiri dari 6 titik api di SRU 1, 5 titik api di SRU 2, serta 3 titik asap di SRU 3. Sebaran titik rawan meliputi jalur Gemawang, Jambong, Kenteng, hingga wilayah Dukuh Grogol dan Dukuh Cawang.

Faktor manusia menjadi penyebab dominan. Aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali disebut sebagai pemicu utama munculnya titik api.

Tak hanya itu, karakteristik lahan di Merbabu turut memperparah kondisi. Vegetasi bambu cendani yang memiliki akar mudah terbakar membuat api cepat menjalar dan sulit dikendalikan.

Baca Juga: Estetika Tari Langen Asmara pada Gelaran Pentas Triwulan di Pura Mangkunegaran

“Jenis lahan turut memperbesar risiko. Vegetasi bambu cendani di Merbabu memiliki akar yang mudah terbakar seperti gambut, sehingga api cepat meluas,” jelas Suratno.

Dampak karhutla 2023 pun sangat nyata dirasakan masyarakat. Kebakaran menyebabkan putusnya jaringan pipa air bersih, sehingga pasokan air terganggu di dua desa dan 17 dukuh.

Di Desa Ngadirejo, tiga dukuh bahkan mengalami krisis air bersih, yakni Margomulyo (154 jiwa), Diwak (104 jiwa), dan Margokaton (235 jiwa). Warga terpaksa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Selain itu, asap kebakaran memicu gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut, menurunkan produktivitas kerja, hingga mengganggu aktivitas belajar dan mobilitas masyarakat.

Baca Juga: Detik-Detik Bocah 6 Tahun Terjepit Eskalator di Neo Solo Grand Mall, Kaki Masuk Celah Saat Turun

Kerugian materiil juga tidak sedikit. Lahan pertanian dan perkebunan rusak, hasil panen hilang, serta ekosistem hutan terganggu. Infrastruktur vital seperti jaringan air ikut terdampak, memperparah kondisi ekonomi warga.

“Produktivitas petani menurun karena tanaman rusak dan lingkungan kerja tidak kondusif akibat kabut asap,” terangnya.

Menghadapi potensi serupa di tahun 2026, BPBD kini memprioritaskan pemantauan di kawasan lereng Merbabu, khususnya jalur Gemawang, Jambong, Kenteng, serta Dukuh Grogol dan Dukuh Cawang.

Suratno menegaskan, mitigasi harus dilakukan sejak dini karena dampak kebakaran tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga sosial ekonomi.

“Secara empiris, kebakaran menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan beban pengeluaran rumah tangga. Jadi mitigasi harus dimulai sejak sekarang,” tegasnya.

Baca Juga: Kirim Somasi Hampir Rp11 Miliar ke Clara Shinta, Ini Keluhan Tri Indah R alias Keyndah soal Dugaan VCS dengan Alexander Assad

BPBD pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan titik api. Koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, relawan, dan pemangku kawasan hutan juga terus diperkuat guna menekan risiko karhutla saat puncak kemarau tiba.

Ancaman sudah di depan mata. Belajar dari 2023, kewaspadaan menjadi kunci agar bencana serupa tidak kembali meluas di Boyolali. (fid/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#karhutla #el-Nino #kebakaran hutan #bpbd #gunung merbabu