SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Fenomena hujan lebat dengan durasi panjang yang melanda wilayah Solo Raya pada Selasa (14/4) malam hingga Rabu (15/4) dini hari menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kondisi ini dinilai cukup unik dan berpotensi kembali terjadi hingga memasuki musim kemarau pada Mei mendatang.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan bahwa fenomena hujan dengan durasi panjang sebenarnya kerap terjadi saat musim peralihan atau pancaroba. Namun, kondisi di Solo Raya memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dibanding wilayah lain di Jawa Tengah.
Menurutnya, sebagian wilayah di Jawa Tengah sudah mulai memasuki musim kemarau pada pekan kedua April.
Sementara itu, kawasan Solo Raya justru masih berada dalam fase peralihan dan diperkirakan baru akan memasuki musim kemarau pada Mei.
“Beberapa wilayah di Jawa Tengah memang sudah mulai masuk musim kemarau. Tetapi khusus Solo Raya, kondisi tersebut belum terjadi dan masih berada di fase pancaroba,” jelasnya.
Dalam periode pancaroba, potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi. Hujan lebat yang berlangsung lama kerap disertai angin kencang hingga sambaran petir. Kondisi ini dipicu oleh faktor labilitas atmosfer yang cukup tinggi di wilayah Solo dan sekitarnya.
Baca Juga: Taman Sriwedari Solo: Jejak Sejarah Keraton, Pusat Seni hingga Saksi PON Pertama Indonesia
Perbedaan suhu yang signifikan antara siang dan malam hari menjadi salah satu pemicu utama. Saat siang hari, suhu udara yang panas memicu proses konveksi, yakni pergerakan udara naik yang kemudian membentuk awan-awan besar.
Fenomena ini berkaitan erat dengan pembentukan awan Cumulonimbus, yaitu jenis awan yang identik dengan hujan lebat, angin kencang, dan petir.
“Cuaca panas dari pagi hingga siang memicu konveksi yang kuat, sehingga terbentuk awan besar. Dari situlah muncul hujan dengan durasi panjang yang sering disertai angin dan petir,” terang Giyarto.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG Jawa Tengah terus melakukan pemantauan dan secara rutin merilis prakiraan cuaca melalui berbagai platform.
Informasi ini juga disalurkan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait sebagai langkah mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melihat tanda-tanda pertumbuhan awan tebal di langit. Awan cumulonimbus yang berkembang pesat menjadi indikator awal terjadinya hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
BMKG juga mengingatkan warga untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat cuaca ekstrem terjadi, serta mewaspadai potensi pohon tumbang, banjir, dan gangguan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan.
Dengan kondisi cuaca yang masih labil selama masa pancaroba, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto