SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Lonjakan harga plastik yang mencapai hingga 100 persen mulai “mencekik” pelaku UMKM di Kabupaten Sragen.
Di tengah tekanan biaya produksi yang kian membengkak, pedagang kecil dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga atau menanggung penyusutan margin.
Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari efek domino ketegangan geopolitik global yang berdampak pada harga minyak dunia—bahan baku utama industri plastik.
Baca Juga: Lapangan Manahan Kembali Tergenang, Pemkot Baru Bergerak Usai Liga Usai
Namun di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana kesiapan pemerintah mengantisipasi dampak langsung ke sektor riil?
Salah satu pelaku usaha, Septi, mengaku terpaksa menaikkan harga es teh dari Rp4.000 menjadi Rp5.000. Kenaikan itu dipicu melonjaknya harga plastik dan bahan baku lain seperti gula.
“Biasanya plastik Rp30 ribuan, sekarang jadi Rp55 ribuan. Gula juga naik,” keluhnya.
Kondisi ini mendapat sorotan dari Ketua Fraksi Golkar DPRD Sragen, Pujono Elly Bayu Effendi. Menariknya, ia tidak hanya berbicara sebagai legislator, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang merasakan langsung tekanan tersebut.
Bayu menilai plastik menjadi komponen yang nyaris tak tergantikan dalam pola konsumsi masyarakat saat ini. Upaya substitusi dinilai belum realistis, terutama bagi pedagang kecil.
“Es teh pakai plastik, gorengan pakai plastik. Mau diganti apa? Tidak mungkin semua kembali ke daun,” ujarnya.
Namun, pernyataan ini sekaligus menegaskan ketergantungan tinggi UMKM pada bahan sekali pakai—yang hingga kini belum diimbangi kebijakan alternatif yang konkret dan terjangkau.
Bayu menyebut kenaikan harga plastik sangat signifikan dan berdampak langsung pada biaya operasional harian. Sebagai pedagang es batu, ia harus membungkus hingga 1.000 produk per hari—beban yang kini semakin berat.
“Mau naikkan harga dari Rp7.000 ke Rp8.000 saja belum tentu diterima pasar,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, ia mengaku telah menyampaikan aspirasi ke tingkat pusat, termasuk kepada Menteri UMKM, agar ada intervensi harga. Namun hingga kini, pelaku usaha masih menunggu langkah nyata, bukan sekadar wacana.
Di sisi lain, Bayu mengaitkan lonjakan harga ini dengan situasi global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia.
Ia menyebut negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, hingga Amerika Serikat turut merasakan dampaknya.
Meski demikian, ia mengapresiasi pemerintah yang sejauh ini masih mampu menahan kenaikan harga BBM di dalam negeri, yang dinilai menjadi salah satu bantalan agar tekanan tidak semakin meluas.
Kebijakan tersebut kerap dikaitkan dengan pemerintahan Prabowo Subianto serta peran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Namun, muncul kritik bahwa menahan harga BBM saja belum cukup jika bahan baku lain seperti plastik dibiarkan melambung.
Baca Juga: Naik Kereta Rp4 Ribu di Tengah Kota Solo? Ini Keunikan Batara Kresna
Realitas di lapangan menunjukkan, tekanan terhadap UMKM tidak hanya datang dari satu sisi. Ketika harga bahan baku naik, sementara daya beli masyarakat stagnan, ruang gerak pelaku usaha semakin sempit.
Tanpa intervensi yang lebih menyeluruh—baik dari sisi distribusi bahan baku, alternatif kemasan, hingga stabilisasi harga—pelaku UMKM berisiko terus berada dalam posisi paling rentan setiap kali gejolak global terjadi. (din/an)