Sukoharjo, SOLOBALAPAN.COM – Ancaman El Nino kembali menghantui. Bahkan kali ini disebut-sebut berpotensi ekstrem—atau populer dengan istilah “Godzilla El Nino”.
Pertanyaannya, apakah kesiapan di lapangan benar-benar sebanding dengan besarnya ancaman?
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menyatakan telah menyiapkan langkah mitigasi, dengan fokus pada infrastruktur irigasi dan distribusi air untuk sektor pertanian.
Namun, seperti biasa, rencana di atas kertas akan diuji saat air benar-benar mulai langka.
Sekretaris DPUPR Sukoharjo, Paulus Samodro, menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah pengecekan bendung dan saluran irigasi.
“Kami lakukan pengecekan fisik dan fungsi secara berkala,” ujarnya.
Pengecekan ini dilakukan melalui kegiatan operasi dan pemeliharaan (epaksi), termasuk pembersihan saluran dan identifikasi kerusakan.
Langkah ini penting, meski sering kali bersifat reaktif—dilakukan ketika ancaman sudah di depan mata, bukan jauh hari sebelumnya.
Baca Juga: Dari Imbauan ke Aksi, Mampukah Solo Lepas dari Ketergantungan Plastik?
DPUPR juga mengklaim telah melakukan pemetaan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kerusakan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan tindak lanjut. Sebab, dalam kondisi kekeringan, keterlambatan sedikit saja bisa berdampak besar bagi petani.
Selain infrastruktur, strategi lain yang disiapkan adalah pengaturan pola tanam. Langkah ini dilakukan dengan menggandeng dinas terkait dan penyuluh pertanian, terutama untuk wilayah yang bergantung pada aliran Colo Timur dan Colo Barat.
Secara teori, distribusi air bisa diatur lebih adil. Namun dalam praktik, persoalan klasik sering muncul—mulai dari rebutan air hingga pelanggaran jalur distribusi.
DPUPR pun mengakui hal tersebut dengan memperketat pengawasan pintu air serta koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
“Kami lakukan pengecekan rutin dan koordinasi di lapangan,” kata Paulus.
Baca Juga: Aturan Tegas Pilah Sampah di Solo, Warga Dipaksa Siap atau Siap-Siap Menumpuk
Meski demikian, tantangan terbesar bukan hanya pada infrastruktur atau regulasi, melainkan pada kedisiplinan pengguna air itu sendiri. Tanpa kepatuhan bersama, sistem sebaik apa pun berisiko tidak berjalan optimal.
DPUPR berharap langkah mitigasi ini mampu menekan dampak El Nino terhadap sektor pertanian. Namun harapan itu tetap bergantung pada satu hal yang sering kali sulit dijaga: konsistensi.
Karena saat kemarau benar-benar datang panjang, yang diuji bukan hanya kesiapan saluran air, tetapi juga kesiapan sistem dan manusianya. (kwl/an)