Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Dari Imbauan ke Aksi, Mampukah Solo Lepas dari Ketergantungan Plastik?

Silvester Kurniawan • Minggu, 12 April 2026 | 18:36 WIB
Wawali Solo ajak pedagang dan masyarakat kurangi penggunaan plastik. (DOK. RASO)
Wawali Solo ajak pedagang dan masyarakat kurangi penggunaan plastik. (DOK. RASO)

Surakarta, SOLOBALAPAN.COM – Ajakan mengurangi plastik kembali digaungkan. Kali ini datang dari Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani.

Namun, seperti banyak kampanye lingkungan lainnya, tantangannya bukan pada niat, melainkan pada realita di lapangan.

Astrid mengajak pedagang dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, baik di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan modern.

Baca Juga: Aturan Tegas Pilah Sampah di Solo, Warga Dipaksa Siap atau Siap-Siap Menumpuk

Ajakan ini disampaikan saat kunjungannya ke Pasar Gede Solo dan pusat perbelanjaan seperti Solo Grand Mall.

“Selain harga plastik yang terus meningkat, kita harus sama-sama mengurangi beban sampah plastik di Kota Solo. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Secara prinsip, ajakan ini sulit dibantah. Plastik sekali pakai memang menjadi salah satu penyumbang utama sampah di Kota Solo. Namun, persoalannya tidak sesederhana mengganti sedotan atau kantong plastik dengan bahan lain.

Di lapangan, alternatif ramah lingkungan seperti sedotan kertas atau kemasan non-plastik justru sering kali lebih mahal. Bagi pedagang kecil, selisih harga sekecil apa pun bisa berdampak langsung pada keuntungan harian.

Baca Juga: Simulasi Biaya Motor Listrik vs Bensin: Hemat Jutaan Rupiah Per Tahun, Cek Cara Hitungnya Di Sini

Artinya, pilihan “ramah lingkungan” sering kali berbenturan dengan kebutuhan “ramah kantong”.

Astrid menyarankan solusi lain: konsumen membawa wadah sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik. Di atas kertas, ini langkah ideal. Namun, kebiasaan tersebut masih belum menjadi budaya mayoritas masyarakat.

“Penggunaan bahan non plastik diperbolehkan selama memenuhi standar keamanan pangan,” tambahnya.

Di sisi lain, urgensi pengurangan plastik memang tidak bisa ditunda. Data menunjukkan pasar tradisional menyumbang sekitar 33 persen dari total sampah harian yang mencapai 386–419 ton dan masuk ke TPA Putri Cempo.

Kepala Dinas Perdagangan Surakarta, Arif Handoko, menyebut pihaknya menargetkan pengurangan sampah dari 44 pasar tradisional hingga 30–50 persen.

Baca Juga: Kenapa Angel Karamoy Putus dari Gusti Ega? Usai Setahun Pacaran Kini Umumkan Kandas, Benarkah Karena Beda Agama?

“Produksi sampah harian ini coba kita tekan agar tidak semua dibuang ke TPA,” ujarnya.

Namun, target ambisius ini kembali berpulang pada satu hal: perubahan perilaku. Dan perubahan perilaku, seperti yang sering terjadi, tidak bisa hanya mengandalkan imbauan.

Tanpa insentif yang jelas, dukungan harga alternatif, serta edukasi yang konsisten, kampanye pengurangan plastik berisiko berhenti di level wacana.

Karena pada akhirnya, mengurangi plastik bukan hanya soal kesadaran, tetapi juga soal kemampuan. (ves/an)


 

Editor : Andi Aris Widiyanto
#pengurangan penggunaansampah plastik #kampanye lingkungan #ramah lingkungan #produksi sampah #Wakil wali kota surakarta astrid widayani