Klaten, SOLOBALAPAN.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang gizi siswa, justru berubah menjadi pengalaman yang—secara harfiah—sulit dicerna.
Layanan MBG di SMP Negeri 1 Kalikotes resmi dihentikan sementara selama dua minggu mulai Jumat (10/4/2026).
Keputusan ini diambil setelah rentetan temuan menu yang tak layak konsumsi hingga memicu dugaan keracunan massal pada siswa dan guru.
Baca Juga: Damkar Boyolali Evakuasi Ular Sanca Kembang Usai Memangsa Ayam
Kepala sekolah, Anik Ariastuti, mengungkapkan bahwa tanda-tanda masalah sebenarnya sudah muncul sejak Kamis (2/4/2026). Saat itu, ditemukan sayur berlendir dan ikan lele yang belum matang—kombinasi yang jelas jauh dari standar gizi, apalagi standar keamanan pangan.
“Kami sudah melaporkan dan dijanjikan perbaikan. Namun justru memburuk,” ujar Anik.
Alih-alih membaik, kondisi justru semakin mengkhawatirkan pada Selasa (7/4/2026). Pihak sekolah menemukan daging ayam berbau amis, belum matang, bahkan terdapat belatung dan bulu yang masih menempel.
Sebuah “menu tambahan” yang jelas tidak pernah masuk dalam pedoman gizi mana pun.
Baca Juga: Niat Cari Untung Cepat, Pemuda Wonogiri Malah Berurusan dengan Polisi Gegara Pil Koplo
Tak berhenti di situ, dalam wadah makanan juga ditemukan lalat hijau. Dampaknya langsung terasa—enam siswa muntah setelah menyantap makanan tersebut. Sekolah pun langsung menolak distribusi MBG sesi berikutnya untuk 131 siswa lainnya.
Sehari berselang, temuan kembali berlanjut. Kali ini, siput ditemukan di dalam sayur selada air. Jika ini dianggap variasi menu, jelas bukan inovasi yang diharapkan.
Hasil penelusuran internal melalui survei menunjukkan 31 siswa dan dua guru mengalami gejala seperti diare, mual, pusing, hingga muntah. Salah satu guru, Rika Indrawati, bahkan harus menjalani observasi medis dan terindikasi keracunan.
Dari hasil tracing lanjutan, total sebanyak 81 siswa dan guru diduga terdampak setelah mengonsumsi menu MBG tersebut.
Merespons kondisi ini, pihak sekolah bersama penyedia layanan, SPPG Satya Haprabu, dan unsur TNI menggelar pertemuan pada Kamis (9/4/2026). Hasilnya, layanan MBG dihentikan sementara selama dua minggu untuk evaluasi menyeluruh.
“Keputusan ini untuk menghindari trauma saat siswa membuka ompreng makanan,” tegas Anik.
Baca Juga: Comeback Spektakuler! EXO Siap Gelar Konser Perdana Usai Semua Member Selesaikan Wamil
Salah satu siswa, Rava, mengaku mengalami pusing dan muntah selama dua hari setelah mengonsumsi menu ayam dan jamur.
“Ayamnya bau, jamurnya masih mentah,” ujarnya.
Beberapa sampel makanan telah diamankan sebagai bahan tindak lanjut. Sementara itu, pihak penyedia layanan menyatakan menerima evaluasi dan berjanji memperbaiki standar sanitasi serta pengolahan makanan.
Kejadian ini menjadi pengingat penting: program baik tanpa pengawasan ketat bisa berubah menjadi masalah serius. Karena pada akhirnya, “bergizi” bukan sekadar label—melainkan tanggung jawab yang harus benar-benar terasa, bukan justru menimbulkan rasa mual. (ren/an)