Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ruam Pada Campak Berbeda dengan Demem Berdarah Dengue, Begini Cara Membedakannya!

Ahmad Khairudin • Sabtu, 11 April 2026 | 11:41 WIB
Edukasi : Gejala campak kerap disalahartikan oleh masyarakat. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)
Edukasi : Gejala campak kerap disalahartikan oleh masyarakat. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)

 

SOLOBALAPAN.COM – Di tengah aktivitas masyarakat yang kembali padat, peringatan kesehatan datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen.

Penyakit Campak atau yang dikenal masyarakat sebagai gabagen kembali terdeteksi pada anak-anak.

Hingga April 2026, tercatat sebanyak 10 kasus suspek ditemukan di wilayah Sragen.

Baca Juga: Desainnya Berubah Total! Segini Estimasi Harga Honda Jazz 2026 yang Kabarnya Bakal Segera Masuk Indonesia

Meski angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 44 kasus (dan seluruhnya dinyatakan negatif), kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.

Pasalnya, campak bukan sekadar penyakit kulit biasa. Infeksi virus ini dapat memicu komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK Sragen, dr. Sri Subekti, menjelaskan bahwa gejala campak kerap disalahartikan oleh masyarakat.

“Biasanya diawali dengan demam tinggi, lalu muncul ruam kemerahan yang disertai rasa gatal,” ujarnya.dinas kesehatan kabupaten sragen

Baca Juga: Momen Menegangkan Vertical Rescue di Sragen, Korban Terjebak Sumur 20 Meter

Ia menambahkan, ruam pada campak berbeda dengan penyakit lain seperti Demam Berdarah Dengue. Pada campak, bintik merah tidak disertai tanda perdarahan seperti mimisan.

Sementara dengan cacar air, perbedaannya terletak pada bentuk dan perkembangan ruam.

Yang perlu diwaspadai, penularan campak sangat cepat karena menyebar melalui udara (droplet). Batuk atau bersin dari penderita dapat dengan mudah menularkan virus ke anak lain di sekitarnya.

Jika tidak ditangani dengan tepat, campak dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia hingga gangguan pada sistem saraf pusat.

Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk membunuh virus campak. Penanganan yang diberikan bersifat simptomatis, yakni meredakan gejala dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif. Salah satunya melalui imunisasi dasar lengkap.

“Vaksin diberikan saat usia 9 bulan dan dilanjutkan booster pada 15 bulan,” jelas dr. Bekti.

Selain imunisasi, kebersihan juga menjadi faktor penting. Orang dewasa yang merawat anak sakit disarankan menggunakan masker untuk mencegah penularan.

Baca Juga: Dari TikTok ke Rak Buku, Laut Bercerita Meledak Lagi dan Bikin Anak Muda Kembali Gemar Membaca

Orang tua juga diminta tidak menunda penanganan medis. Jika anak mengalami demam tinggi disertai ruam merah, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Namun, tantangan di lapangan tak hanya soal virus. Penolakan imunisasi di sejumlah wilayah seperti Plupuh, Masaran, dan Kedawung masih menjadi hambatan dalam upaya perlindungan kesehatan anak.

Untuk mengatasi hal ini, DKK Sragen telah melakukan pendekatan langsung ke masyarakat, termasuk melibatkan tokoh agama guna meluruskan informasi yang keliru.

Baca Juga: Dari Panji Asmarabangun ke Isu Childfree hingga Strict Parents, Teater Tradisi Kini Makin Relate dengan Anak Muda

“Vaksin campak sudah dinyatakan halal oleh MUI. Ini bukan sekadar urusan medis, tapi ikhtiar bersama untuk melindungi generasi ke depan,” tegasnya.

Peringatan ini menjadi penting: gabagen bukan sekadar gatal biasa, melainkan ancaman nyata yang membutuhkan kesadaran dan langkah bersama untuk mencegahnya. (din/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#gabagen #ruam #dinas kesehatan kabupaten sragen #campak #vaksin