SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Pemerintah Kota Surakarta kembali merancang skema kolaborasi baru: Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) akan disinergikan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di atas kertas, konsep ini terdengar ideal—koperasi bergerak, UMKM terangkat, dan kebutuhan pangan terpenuhi.
Namun seperti biasa, pertanyaannya bukan pada rencana, melainkan pada pelaksanaan.
Kebijakan ini mengacu pada instruksi presiden terkait pembentukan puluhan ribu koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Tragedi Sumberlawang Makin Terang, Korban Alami Luka Berat Sebelum Tewas
Di Kota Solo, implementasinya mulai diarahkan lebih spesifik: KKMP didorong menjadi pemasok utama kebutuhan pangan untuk program MBG.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyebut langkah ini sebagai upaya konkret menjalankan kebijakan pusat sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal.
“Harapannya MBG ini bisa belanja di Koperasi Merah Putih,” ujarnya.
Saat ini, tercatat sudah ada 54 KKMP yang berjalan di Solo. Sebagian bahkan sudah memiliki atau tengah membangun gerai. Secara potensi, jaringan ini memang cukup untuk menjadi tulang punggung distribusi—setidaknya di tingkat lokal.
Namun, pengalaman selama ini sering menunjukkan bahwa ekosistem seperti ini tak jarang tersendat di tengah jalan: antara idealisme pemberdayaan dan realita distribusi yang kerap didominasi pemain besar.
Respati sendiri mengakui adanya celah tersebut. Ia menegaskan bahwa KKMP diharapkan bisa menjadi “penyambung” antara UMKM dengan MBG, sekaligus mencegah praktik monopoli bahan baku.
Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengakui bahwa potensi monopoli itu memang nyata.
“Supaya tidak ada oknum yang memonopoli bahan baku tanpa melibatkan UMKM lokal,” tegasnya.
Di titik ini, KKMP diberi peran strategis—bukan hanya sebagai koperasi biasa, tapi sebagai penjaga agar rantai pasok tetap adil. Peran yang terdengar besar, namun tentu membutuhkan pengawasan yang tidak kalah serius.
Karena tanpa kontrol yang konsisten, bukan tidak mungkin skema ini hanya menjadi jalur baru—dengan aktor lama yang kembali bermain di belakang layar.
Kini publik menunggu, apakah sinergi ini benar-benar akan memperkuat ekonomi akar rumput, atau sekadar menambah daftar program yang terdengar menjanjikan di awal, namun pelan-pelan kehilangan arah di tengah jalan. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto