Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Sampah Numpuk Baru Panik: Pasar Tradisional Solo Ditarget Pangkas 50 Persen

Silvester Kurniawan • Selasa, 7 April 2026 | 17:31 WIB
Pemkot Surakarta menargetkan pengurangan sampah pasar tradisional hingga 50 persen untuk mengurangi beban TPA Putri Cempo. (DOK RASO)
Pemkot Surakarta menargetkan pengurangan sampah pasar tradisional hingga 50 persen untuk mengurangi beban TPA Putri Cempo. (DOK RASO)

 

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Setelah bertahun-tahun “akrab” dengan gunungan sampah, kini Pemerintah Kota Surakarta tampaknya mulai tersadar: tempat pembuangan akhir bukanlah kantong tanpa dasar.

Target pun langsung dipasang—tidak main-main, 30 hingga 50 persen pengurangan sampah dari pasar tradisional.

Sasaran utamanya jelas: TPA Putri Cempo yang selama ini seolah dipaksa menelan apa saja tanpa jeda.

Baca Juga: Persib Bandung Berpeluang Kunci Gelar Juara di Kandang Persija Jakarta, Jadi Skenario Terburuk Bagi The Jakmania?

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Arif Handoko, mengonfirmasi bahwa langkah ini mulai disosialisasikan ke para pedagang di 44 pasar tradisional. Harapannya sederhana—tidak semua sampah langsung “dilempar” ke TPA seperti selama ini.

“Produksi sampah harian dari 44 pasar tradisional di Solo ini coba kita tekan 30-50 persen agar tidak semua dibuang ke TPA Putri Cempo,” ujarnya, Selasa (7/4).

Target tersebut mencakup semua jenis sampah, baik organik maupun non-organik. Artinya, bukan hanya sisa sayuran yang membusuk, tapi juga plastik, kardus, hingga limbah lain yang selama ini terlalu mudah dianggap “urusan belakang”.

Padahal, bukan tanpa upaya sebelumnya. Sejumlah pihak sebenarnya sudah lama terlibat dalam penampungan dan pengolahan sampah pasar.

Hanya saja, tampaknya langkah-langkah itu belum cukup untuk menahan laju “kiriman rutin” ke Putri Cempo yang terus membengkak.

Baca Juga: Vape Terancam Dilarang Total! BNN Temukan Kandungan Sabu dan Obat Bius dalam Liquid, Usulkan Masuk RUU Narkotika

“Ya ini yang akan kita maksimalkan karena harus ada pengurangan yang langsung dibawa ke TPA,” tegas Arif—kalimat yang terdengar seperti pengakuan bahwa selama ini memang terlalu banyak yang dibiarkan mengalir begitu saja.

Data yang beredar pun cukup menampar. Pasar tradisional menyumbang sekitar 33 persen dari total sampah harian Solo yang mencapai 386 hingga 419 ton. Angka yang bukan lagi sekadar statistik, tapi alarm keras yang lama diabaikan.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini akan digenjot dari hulu hingga hilir—sebuah konsep yang sebenarnya sudah lama digaungkan, meski implementasinya kerap setengah hati.

Kolaborasi dengan akademisi hingga pelibatan masyarakat pun kembali diangkat sebagai solusi. Di atas kertas, semua terlihat ideal. Tinggal satu pertanyaan klasik: seberapa konsisten ini akan dijalankan?

Karena pengalaman selama ini menunjukkan, masalah sampah bukan soal kurang wacana—melainkan kurang disiplin dalam menjalankan yang sudah jelas-jelas direncanakan.

 

Kini bola ada di pasar—secara harfiah dan administratif. Jika target 50 persen ini benar-benar tercapai, mungkin Putri Cempo bisa sedikit “bernapas”. Jika tidak, ya… tumpukan lama tinggal menunggu tambahan baru. (ves/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kota surakarta #Gunungan Sampah #tpa putri cempo #pasar tradisional #putri cempo