SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Fenomena “jari lebih gesit dari akal sehat” kembali memakan korban.
Kali ini datang dari Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, di mana seorang warga bernama Koko Mujianto harus menelan pahit konsekuensi dari komentarnya sendiri di media sosial.
Setelah diduga melontarkan ujaran kebencian terhadap pengemudi ambulans, Koko akhirnya duduk manis di Mapolsek Grogol, Senin (6/4) malam, bukan untuk update status, tapi untuk klarifikasi—dan tentu saja, minta maaf.
Klarifikasi ini bukan tanpa alasan. Belasan pengemudi ambulans yang tergabung dalam Forum Ambulans Sukoharjo Bersatu (FAST) datang langsung, tampaknya ingin memastikan bahwa nyinyir di dunia maya juga punya dampak di dunia nyata.
Awalnya, akun Facebook bernama Koko Torass dengan enteng menuliskan komentar bernada negatif—lengkap dengan doa buruk—kepada profesi sopir ambulans. Sebuah “prestasi” yang sayangnya tidak butuh keahlian, hanya butuh keberanian tanpa tanggung jawab.
Komentar tersebut sontak menyulut emosi. Bukan tanpa sebab—menyumpahi orang yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan jelas bukan sekadar salah ketik.
Dalam video klarifikasinya, Koko akhirnya mengakui bahwa apa yang ia tulis memang tak layak dipertahankan, apalagi dibanggakan.
“Terkait dengan komentar tersebut, saya menyadari bahwa komentar tersebut dapat menyinggung dan melukai perasaan, serta tidak seharusnya saya tulis. Dengan ini saya memohon maaf sebesar-besarnya,” ujarnya, kini dengan nada yang jauh lebih rendah dibanding saat mengetik komentar.
Janji klasik pun dilontarkan—tidak akan mengulangi lagi. Sebuah kalimat yang sering muncul setelah realita mengetuk lebih keras daripada notifikasi.
Ia juga menyampaikan doa bagi para pengemudi ambulans. Ironis, mengingat sebelumnya justru doa sebaliknya yang sempat dilontarkan.
Di sisi lain, Ketua FAST, Wirawan Setiadi, memilih tetap elegan. Ia mengapresiasi langkah cepat Polsek Grogol yang memfasilitasi mediasi, sehingga persoalan ini bisa selesai tanpa perlu babak lanjutan.
Namun satu hal yang patut dicatat: kejadian ini sekali lagi menegaskan bahwa media sosial bukan tempat uji coba emosi tanpa konsekuensi. Karena pada akhirnya, keberanian di balik layar sering kali tak sebanding dengan keberanian saat harus mempertanggungjawabkannya di dunia nyata.
Baca Juga: Kemungkinan Bakal Polisikan Okin, Ini yang Bikin Rachel Vennya Rugi di Kasus Rumah untuk Xabiru
Dan seperti biasa, pelajaran mahal kembali hadir—sayangnya, masih dengan cara yang sama. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto