SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah padatnya lalu lintas perkotaan dan ketergantungan pada kendaraan pribadi, Kota Surakarta perlahan menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan: bersepeda.
Ajakan Bike to Work yang kembali digaungkan Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, bukan sekadar wacana. Di baliknya, sebuah sistem yang telah disiapkan sejak beberapa tahun lalu kini mulai menemukan momentumnya.
Sejauh ini, Kota Solo telah memiliki sedikitnya 25 kilometer jalur sepeda yang membentang di berbagai ruas strategis. Jalur ini bukan hanya garis di atas aspal, tetapi menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap mobilitas perkotaan.
Dari jantung kota di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang membentang sekitar 12 kilometer, hingga ruas lain seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Adi Sucipto, hingga kawasan Kota Barat—semuanya terhubung dalam satu gagasan: menghadirkan ruang aman bagi pesepeda.
Marka bergambar sepeda yang menghiasi jalanan menjadi penanda bahwa ruang itu memang disiapkan. Awalnya dibangun untuk mendukung gerakan Bike to School pada 2020-2021, kini jalur tersebut kembali dihidupkan dalam semangat baru: Bike to Work.
Namun Solo tak berhenti pada infrastruktur semata. Di balik konsep ini, tersimpan strategi yang lebih besar—integrasi.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Taufiq Muhammad, menegaskan bahwa jalur sepeda dirancang sebagai bagian dari ekosistem transportasi, bukan berdiri sendiri.
“Jalur sepeda ini merupakan kelanjutan perjalanan. Konsepnya terintegrasi dengan transportasi publik yang ada di Solo,” jelasnya, Rabu (1/4).
Baca Juga: Solo Lirik Iran, Diplomasi Sister City Mulai Dijajaki di Tengah Gejolak Global
Artinya, bersepeda bukan lagi soal jarak dekat semata. Bagi warga yang harus menempuh perjalanan lebih jauh, skenario perjalanan telah disiapkan: kayuh sepeda ke halte terdekat, lanjutkan dengan transportasi publik, lalu kembali mengayuh hingga tujuan akhir.
Di sinilah peran Batik Solo Trans (BST) menjadi krusial.
Armada BST yang lalu-lalang di jalanan Solo kini dilengkapi rak khusus sepeda. Fasilitas ini memungkinkan penumpang membawa sepeda mereka—dititipkan di bagian depan atau belakang bus—membuka peluang mobilitas lintas wilayah, bahkan hingga kawasan aglomerasi.
Skema ini menjadikan perjalanan lebih fleksibel: dari rumah ke halte dengan sepeda, melanjutkan dengan bus, lalu kembali bersepeda menuju kantor.
“Ini bisa jadi pilihan masyarakat. Momentum ini juga kami manfaatkan untuk kembali mengkampanyekan transportasi publik yang terintegrasi dengan jalur sepeda,” imbuh Taufiq.
Respons masyarakat pun mulai bermunculan. Sebagian melihat ini sebagai langkah nyata menuju kota yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Tantangan Calvin Verdonk Diterima! Dony Tri Pamungkas Siap Kerja Keras Demi Mimpi Merumput di Eropa
Salah satunya Sandi, karyawan swasta yang telah lebih dulu menjalani pola hidup Bike to Work sejak masa kuliah di Universitas Sebelas Maret.
“Dari rumah ke Purwosari saya naik sepeda, lalu lanjut BST, kemudian sepeda lagi sampai kantor. Kalau santai, pulangnya bisa full gowes,” ceritanya.
Kisah seperti Sandi mungkin belum menjadi arus utama. Namun dengan infrastruktur yang telah tersedia dan sistem yang mulai terintegrasi, Solo tampaknya tengah menyiapkan perubahan besar—dari kota berbasis kendaraan pribadi menuju kota yang lebih ramah sepeda.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah bisa. Tapi, seberapa cepat masyarakat mau mulai mengayuh. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto